Kejadian malam itu menjadi awal yang buruk bagi Sora.Lingkar hitam menghiasi bawah matanya, menandakan betapa lelahnya dia setelah terus mengalami kesulitan mencari pekerjaan. Sudah berbagai pekerjaan dia jalani—karyawan minimarket, pelayan restoran cepat saji, pengemas makanan, hingga penyebar brosur. Kalaupun diterima bekerja, Sora hanya mampu bertahan seminggu. Selebihnya, dia menghabiskan waktu berjam-jam di depan meja, menelepon nomor-nomor lowongan yang tertera di koran.Ini benar-benar sulit baginya.Terlebih, ada Ara. Putrinya."Ibu! Huwaaa, tolong aku!"Sora mendengar teriakan itu, tetapi tubuhnya masih terpaku. Kepalanya pusing, pikirannya kacau, seolah kehilangan arah."IBU!!!"Tangisan Ara yang semakin keras membuat Sora tersadar. Dia menoleh dengan mata membesar, lalu berlari menghampiri putrinya yang tampak seperti sedang ditarik oleh sesuatu yang tak terlihat. Sora segera memeluknya erat."Maaf .
Read more