Se connecterKejadian malam itu menjadi awal yang buruk bagi Sora.
Lingkar hitam menghiasi bawah matanya, menandakan betapa lelahnya dia setelah terus mengalami kesulitan mencari pekerjaan. Sudah berbagai pekerjaan dia jalani—karyawan minimarket, pelayan restoran cepat saji, pengemas makanan, hingga penyebar brosur. Kalaupun diterima bekerja, Sora hanya mampu bertahan seminggu. Selebihnya, dia menghabiskan waktu berjam-jam di depan meja, menelepon nomor-nomor lowongan yang tertera di koran.<“Sephael.” Sosok berpakaian serba putih itu memanggil saudaranya yang tengah berjalan di tepian telaga. Bibir tebal Jivael menyunggingkan senyum ramah, sementara tangan kanannya menggenggam sebilah pedang perak yang masih berlumuran darah.Sosok yang dipanggil Sephael menoleh, lalu membalas dengan seulas senyum. “Jivael. Bukankah hari ini kau tidak menerima tugas apa pun dari Ayah? Kenapa pedangmu berlumuran darah seperti itu?”Helaian pirang Jivael berayun bersamaan dengan dirinya yang berdiri di samping pemegang kasta tertinggi para seraphim. Dia tertawa renyah. Dengan santai, dia melemparkan pedangnya ke telaga. Namun, air suci itu sama sekali tidak ternodai oleh darah di pedangnya.“Aku baru saja menumbangkan seekor naga yang naik ke permukaan.”“Jivael, kau memang selalu berbuat seenaknya.”“Apa? Yang kulakukan adalah perbuatan mulia.” Dia tersenyum tipis, lalu mengulurkan tangan ke depan, membuat pedang yang sebelumnya dia lempar ki
Tubuh Vance menegang saat mendengarnya. Kedua matanya terbuka lebih lebar, dipenuhi kengerian. Pandangan itu perlahan bergulir menatap Ara yang terlelap di atas ranjang. Dahi gadis itu berkerut, bibirnya mengerang pelan, terdengar resah. Dilihat dari raut wajahnya, Vance yakin Ara tengah memimpikan sesuatu yang buruk. Sangat buruk. Dengan kedua tangan mengepal, dia berbalik dan mengejar Anthony yang hendak menuruni tangga. Vance menggapai pundak lebar pria itu, lalu menariknya hingga langkah iblis tak bersayap tersebut terhenti. “Apa yang kau maksud dengan Ara bertemu mereka?” Sepasang mata Vance memicing saat Anthony menyingkirkan tangannya dari pundak. Dalam hati, Vance berharap semua itu tidak benar. Dia tahu, sosok yang memiliki nama Anthony J. Wallenstein bukanlah tipe yang suka bergurau. Bahkan melemparkan guyonan pun terasa mustahil bagi iblis berwajah datar itu. Namun, sesuatu dalam dirinya memaksa untuk percaya.
"Apa yang terjadi padanya?"Vance berlari mendekat begitu melihat Anthony membawa Ara yang tidak sadarkan diri dalam gendongannya. Nada suaranya terdengar tajam, sarat kepanikan yang sejak tadi menyesakkan dada.Dia benar-benar khawatir.Beberapa saat lalu, Vance menyaksikan sendiri bagaimana seekor naga menculik Ara dan membawanya terbang jauh ke langit. Dia telah berlari sekuat tenaga, mengejar tanpa henti, tetapi tubuhnya tak memiliki sayap untuk menyusul makhluk terkutuk itu.Yang lebih mengusiknya adalah sesuatu yang terasa janggal. Ada bagian waktu yang seolah hilang dari ingatannya.Baru beberapa puluh detik lalu Ara dibawa pergi, dan Anthony sama sekali tidak terlihat di sana. Lalu bagaimana bisa sekarang gadis itu berada dalam pelukannya?"Apa Ara baik-baik saja?" tanya Vance lagi, langkahnya cepat mengikuti Anthony yang terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun. Dahi Anthony berkerut tipis. Wajahnya dingin, tetapi aura d
Sepertinya saat ini dia sedang berada di ambang kematian, atau memang dirinya sudah mati karena menyaksikan sesuatu yang indah seperti sosok bersayap itu. Jika memang benar begitu, ini adalah kematian yang cukup bagus.Saat pikiran itu terlintas, tubuh Ara hampir terhempas ke tanah. Dia melihat sosok bersayap tersebut tersenyum tipis, lalu sepasang lengan yang sangat familier menangkapnya dengan kokoh, dan memeluknya erat.Rasanya hangat dan aman.Lalu, ada suara yang memanggil namanya.Suara tuannya.Dan sesaat setelah itu, dunianya berubah putih.***“Ada keperluan apa kau di sini? Bumi bukan tempat untuk makhluk sepertimu.”Itulah kalimat pertama yang Anthony lontarkan sesaat setelah dia menyambar tubuh Ara dan menggendong Ara yang nyaris menghantam tanah.“Katakan itu pada dirimu sendiri, Juslandier Bloodfallen.”Anthony menurunkan Ara dan menyandarkannya pada batang pohon. Kedua mata Ara t
“Senjata yang kuminta, kau bisa membuatnya?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Anthony sesaat setelah dia melangkah masuk ke ruangan kerja Yuuscar Vingkimanuel. Pria berkulit pucat itu mendongak dari meja kerjanya, lalu menggeleng perlahan sebelum akhirnya mengangguk ragu. Dia berjalan menuju salah satu rak penyimpanan di sudut ruangan, jemarinya menyusuri deretan botol kaca, serpihan logam, dan permata yang tersusun rapi. “Aku sedang berusaha keras membuatnya, dan masih membutuhkan beberapa bahan untuk dicampurkan.” Yuuscar menghela napas tipis. “Dan, ya, butuh waktu untuk menyelesaikannya. Kau tahu sendiri, membuat senjata seperti yang kau minta itu tidak mudah.” Anthony terdiam. Dia menarik napas dalam, lalu mengembuskannya kasar. Tanpa berkata apa-apa, dia mengambil sebuah permata berwarna zamrud dari atas meja kerja Yuuscar, lalu berjalan menuju sofa dan mendudukkan diri di sana. Ba
Ara merapatkan mantel yang biasa dia pakai ketika menginjakkan kaki di luar rumah. Dia memandang tangan kanannya yang terlihat bergetar lembut, kemudian mengepalkannya kuat-kuat saat mengingat konversasi singkat yang dilakukan bersama tuannya beberapa saat lalu.“Tuan, apa aku boleh keluar rumah? Vance bersamaku, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”“Tentu.”Ara masih mengingat bagaimana ekspresi dan suara Anthony ketika mengatakan sebait kata itu. Sang tuan tidak lagi menatapnya, pria itu hanya meluangkan sedikit waktu untuk menunggu Ara yang memanggilnya demi meminta izin, lalu pergi begitu saja melewati pintu rumah dan meninggalkan Ara yang berdiri di ujung tangga. Anthony bahkan tidak bertanya ke mana Ara akan pergi, mengatakan jangan pulang terlalu malam, atau sekadar mengatakan hati-hati di jalan.Ah, Anthony J. Wallenstein benar-benar menghindarinya.Ara tersenyum getir. Dia mendongak menatap Vance yang sudah menungg
Selama perjalanan kereta dari Stasiun Paddington, Ara sama sekali tidak berbicara. Dia hanya memandang ke luar jendela, menatap domba-domba yang tersebar di sepanjang bukit dan rumah-rumah batu kapur berwarna kuning madu yang berkelebat di sepanjang jalur.Anthony pun sama; pria itu memi
Ara melompat kecil saat turun dari kereta yang baru saja membawanya ke sebuah kota. Sejak keberangkatan, ia tidak banyak bertanya. Namun, begitu kakinya menjejak peron, Ara tak bisa lagi menahan keterkejutannya.London, Ara tak percaya tuannya akan membawanya ke kota yang penuh kesibukan
"Kau bisa pergi ... jika kau mau."Wajah Ara memucat, kalimat itu menghantamnya keras. Tangannya mencengkeram pakaian Anthony, gemetar, seolah itu satu-satunya hal yang menahannya agar tidak runtuh. Kepalanya menggeleng berulang kali, sementara matanya terpejam erat."Apa Tuan i
"Anthony!" Anthony, katanya. Ara memanggil namanya tanpa embel-embel Tuan. Saat itu juga, Anthony berhenti. Geramannya lenyap, tertelan oleh degup jantung Jung Ara yang berdetak begitu keras dan cepat di telinganya. Di depan sana, Mikhail memasang wajah kosong ketika sebuah tangan menyentuh punda







