Masih dalam posisi berbaring dengan mata terpejam, Ara merasakan sesuatu menetes ke wajahnya. Perlahan, ia membuka mata, dan seketika ia tertegun.Lehernya dicekik.Cengkeraman itu begitu nyata, begitu kuat, seolah ingin merebut napas yang ia miliki. Kedua matanya membola, tubuhnya menegang, sementara suara itu—suara yang tak pernah benar-benar bisa ia lupakan—menggema di telinganya."Seharusnya, aku tidak pernah melahirkanmu."Ara tersentak bangun, tangannya langsung meraba leher. Napasnya terengah, peluh membasahi dahi dan lehernya. Beberapa detik kemudian, Ara menyadari bahwa yang barusan ia alami itu hanyalah mimpi.Tidak … lebih tepatnya, kenangan."Tuan .…" Ia menoleh ke sisi kanan, tempat Anthony berbaring semalam. Namun, Kosong. "Tuan Wallenstein?"Tidak ada jawaban. Keheningan ini terasa ganjil, seolah kamar ini berada di daerah terpencil.Ara turun dari tempat tidur, langkahnya pelan dan ragu. Pikiran
Read More