Waktu makan malam tiba, semua berkumpul di meja makan, tak terkecuali Sandy. Sebenarnya, Sandy sudah berulang kali menolak untuk ikut makan bersama. Ia merasa canggung, apalagi dengan status barunya yang masih terasa asing baginya. Namun, Melati terus saja memaksanya. “Sekali-kali makan bersama keluarga tidak ada salahnya, Sandy,” ujar Melati. Karena tidak enak menolak terus, akhirnya Sandy pun menurut. Ia duduk di salah satu kursi dengan sikap sedikit kaku. Arsen yang melihatnya hanya diam, masih terlihat belum sepenuhnya menerima keadaan, sementara Vivian yang duduk di sampingnya hanya tersenyum kecil melihat ekspresi suaminya. “Bagaimana proyek baru kita?” tanya Ferdy, berusaha memecahkan suasana canggung di meja makan. “Sedang berjalan, Tuan,” jawab Sandy sopan. “Panggil Papa,” kata Ferdy santai. Sandy langsung menegang. Ia tampak kebingungan, seolah tidak menyangka akan mendengar permintaan itu. “Pa...” gumamnya pelan, masih terasa aneh di lidahnya. “Panggil
Read more