Violet menunggu di ruang tamu. Hatinya gelisah, matanya sesekali menatap ke arah pintu utama kastil. Di luar, badai salju masih menggila. Angin menderu kencang, menerpa dinding-dinding es dengan suara mencekam.Tak lama kemudian, pintu utama kastil terbuka. Zero masuk dengan langkah cepat. Di gendongannya, Sylvia meringkuk lemah, tubuhnya menggigil kedinginan. Wajahnya pucat, bibirnya membiru, dan matanya sayu.Violet mendekat. Dalam hatinya ada sedikit berdenyut melihat pemandangan itu. Bukan karena iba pada Sylvia, tapi karena cara Zero menggendongnya dengan penuh perhatian, seperti membawa barang berharga yang tak boleh jatuh."Kenapa dia bisa ada di sini?" tanya Violet, berusaha tenang."Entahlah," jawab Zero singkat. Ia berjalan, membawa Sylvia ke salah satu ruangan di lantai dasar.Violet mengikuti dari belakang, matanya tak lepas dari Sylvia yang masih meringkuk di pelukan Zero. 'Dia nekat melawan badai salju? Untuk apa?'Zero membaringkan Sylvia di ranjang tamu, lalu menatap
Read more