Malam itu, ruang makan mansion terasa hangat. Lilin-lilin menyala di atas meja panjang. Tapi suasana di meja itu tak sehangat lampu yang menyala, malah cukup berisik.Ignis duduk di sebelah kanan Violet, tubuhnya hampir menempel. Setiap kali Violet mengangkat sendok, Ignis ikut mengangkat sendok. Setiap kali Violet menoleh, Ignis ikut menoleh.Tatapan Ignis tak pernah lepas dari wajah Violet, seperti anak kecil yang takut kehilangan mainan kesayangannya."Vio, coba ini," kata Ignis, menyuapkan daging panggang ke mulut Violet. "Aku yang masak ini khusus untukmu."Violet menerimanya, mengunyah pelan. "Enak."Ignis tersenyum lebar. "Aku juga sudah memperbaiki semua barang rusak di kamar utama. Terutama tempat tidur. Sekarang lebih kuat, lebih kokoh. Kita bisa—"Dylan yang duduk di sebelah kiri Violet mendengus. Ia tak menyuapi Violet, tapi tangannya sesekali mengusap punggung tangan Violet, mengusap rambutnya, menyentuh pipinya. Gerakannya lembut, tapi intens."Jangan terlalu lengket," u
続きを読む