“Aku nggak bercanda!” potong Aluna cepat. “Aku serius. Aku udah ngalamin ini berkali-kali. Dari tangga yang tiba-tiba muncul, air yang membeku, sampai—” “Stop.” Sindi mengangkat tangan. Wajahnya berubah serius, tapi bukan karena percaya, melainkan karena mencoba memahami. “Aluna, kamu capek?” tanyanya pelan. “Atau kamu lagi stres banyak kerjaan?” Kalimat itu membuat Aluna terdiam. Dadanya terasa sesak. Dia tahu ini akan sulit dipercaya, tapi tetap saja, mendengar itu dari sahabatnya sendiri membuatnya sedikit goyah. “Aku nggak gila, Sin,” bisiknya pelan. “Aku tahu ini kedengarannya aneh. Tapi dia—” Aluna menunjuk ke arah pintu. “Dia nyata. Aku pegang dia. Dia berdarah. Dia—” Sindi menggeleng tak percaya. “Sejak kapan, tokoh fiksi jadi nyata? Ini gila, Al!” “Ssttt!” desis Aluna. “Jangan keras-keras. Aku bingung mau jelasin
Mehr lesen