Início / Romansa / Takdir Kedua Istri Sang Kapten / 149. Karakter Variabel Yang Sebenarnya

Compartilhar

149. Karakter Variabel Yang Sebenarnya

Autor: Min Ye-Rin
last update Data de publicação: 2026-05-12 18:23:31

“Maksud kamu?” tanya Aluna dengan pupil yang sudah menyusut. Dia duduk di tepi ranjang, sambil menggenggam tangan Rengganis. “Coba jelaskan secara rinci. Aku nggak ngerti apa yang kamu maksud.”

Rengganis berusaha menggeser posisi tidurnya, namun tubuhnya tidak memiliki tenaga sekuat itu. Dia memejamkan mata sebentar, lalu menatap Aluna lebih dalam.

“Aku baru tahu kalau dunia cerita itu nggak seimbang, karena ada satu nyawa yang asing masuk kesana,” katanya. Keningnya berkerut, seolah mengembal
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   Bab 179. Sebuah Ketukan

    “Aluna. Jangan menjauh dari aku.” Suara Raka terdengar rendah dan serius. Sangat serius sampai membuat dada Aluna ikut menegang. Wanita itu refleks turun dari sofa lalu memegang belakang kaos Raka erat-erat. Gelap. Seluruh kamar langsung tenggelam dalam kegelapan tanpa sisa cahaya sedikit pun. “Ra-Raka…” panggil Aluna pelan. Suaranya terdengar gemetar. “Aku… aku takut, Raka.” “Aku di sini.” Raka langsung meraih tangan Aluna lalu menggenggamnya kuat. “Pegang aku. Ku nggak usah taku. Ada aku disini.” Aluna buru-buru mengangguk walau Raka tidak bisa melihatnya dengan jelas. Jemarinya mencengkeram tangan pria itu semakin erat. “Ada apa?” tanya Aluna panik. “Kenapa lampunya mati semua? Ini gara-gara cerita itu lagi? Apa kita bakal dipisahkan lagi?” Raka tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju lurus ke arah jendela yang sekarang hanya memperlihatkan bayangan hitam pekat. “Raka?” panggil Aluna, karena Raka tetap diam. “Kamu jangan diem aja. Aku takut. Aku… aku nggak

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   Bab 178. Raka Junior Part 2

    Raka berjongkok tepat di depan Aluna. Tatapannya turun perlahan ke perut wanita itu yang masih rata. Namun sorot matanya berubah jauh lebih lembut dibanding sebelumnya. “Aku mau ada Raka junior di sini.” Pipi Aluna langsung memanas dalam sekejap. Dia memukul pundak Raka. “Ra-Raka!” pekiknya malu. Dia refleks menarik bantal sofa lalu memukul bahu Raka lagi “Kamu ngomong apaan sih?” Raka malah tertawa puas. Dia menangkap bantal itu dengan satu tangan sebelum akhirnya menarik Aluna mendekat lagi. “Aku serius, Aluna,” katanya santai. “Aku pengen punya keluarga lengkap sama kamu. Keluarga yang normal.” Aluna menggigit bibir bawahnya pelan. Jantungnya kembali berdetak tidak karuan. Tatapannya lurus ke depan, seolah melihat sesuatu yang jauh di depannya. “Kita baru aja hampir mati, Raka,” gumam Aluna pelan. “Dan kamu malah mikirin anak?” Raka mengangkat sebelah alisnya. “Justru karena itu.” Raka perlahan menyandarkan kepalanya di pangkuan Aluna. Tatapannya lurus menatap langit-langit

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   Bab 177. Raka Junior part 1

    Aluna terdiam cukup lama setelah mendengar kalimat itu. Tatapannya terus tertuju pada wajah Raka yang berada begitu dekat di depannya. Tidak ada keraguan di sana. Tidak ada kebohongan. Hanya keyakinan yang justru membuat dada Aluna kembali terasa penuh. “Kenapa liatin aku terus?” tanya Raka pelan. Sudut bibirnya sedikit terangkat. “Aku makin ganteng, ya? Kamu kangen sama aku?” Aluna langsung mendengus kecil. Lalu mengulas senyum. “Situasinya serius, Raka,” katanya dengan suara berbisik. “Masih aja bercanda.” “Aku juga serius.” Raka mengusap ujung mata Aluna yang masih basah. “Aku serius mau jagain kamu. Aku serius mau ada terus di dekat kamu.” Kalimat itu membuat Aluna kembali menunduk. Jemarinya tanpa sadar memainkan ujung kaos Raka. Kepalanya masih penuh dengan ketakutan, tapi sekarang ada sesuatu yang berbeda. Kini Aluna merasa tidak sendirian lagi. Raka memperhatikan wanita di depannya diam-diam. Rambut Aluna masih sedikit berantakan. Matanya sembab karena terlalu banyak mena

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   Bab 176. Dada Yang Menghangat

    “Aku cuka tokoh variabel yang bisa menghilang dan terasing kapanpun.” Raka mengeraskan rahangnya. Pupilnya menggelap tanpa sadar. Dia juga terluka. Dia terkoyak, bahkan lebih buruk dari Aluna. “Aku tahu,” bisiknya. “Aku tahu semuanya, Aluna.” Aluna kembali menggeleng. Dia mendorong dada Raka. “Sekarang kamu bilang, kamu tahu semuanya?” tanya Aluna. “Lalu apa yang terjadi sama dunia ini, Raka? Akan hilang? Akan hancur?” Hening. Tak ada yang bicara. Keduanya bungkam dalam isi kepala masing-masing. Sebelum akhirnya Raka menghela napas panjang. Raka pelan-pelan menyentuh pundak Aluna. “Kamu masih percaya sama aku, Luna?” Raka menatap Aluna lebih dalam. “Aku Raka. Aku suami kamu, Aluna…” Dada Aluna mengembang dalam sekejap. Tatapan Raka masih sama. Hangat, dan sangat menenangkan. Aluna menatap Raka cukup lama. Seolah sedang memastikan pria di depannya benar-benar nyata dan tidak akan menghilang begitu saja. “Aku percaya sama kamu,” bisiknya lirih. “Tapi aku takut, Raka. Aku ta

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   Bab 175. Terungkap

    Aluna masuk ke dalam rumah dengan setengah berlari. Dadanya masih berdegup dengan cepat. “Tatapan Arga,” gumamnya pelan. Kedua tangannya mencengkram pinggiran sofa. Dia masih mengingat dengan jelas bagaimana Arga tersenyum padanya. Sentuhan hangat di pundaknya, membuat Aluna refleks menepis. Dia mundur satu langkah. Wajahnya tegang dan pucat. “Kamu kenapa?” tanya Raka dengan kedua alis saling bertaut. Sedangkan Aluna, wanita itu masih tegang. Lidahnya tak bisa bergerak. “Hey, kenapa? Apa yang terjadi?” Raka menyentuh pipi Aluna yang pucat pasi. “Aku di sini, semua akan baik-baik aja.” Aluna menggeleng. Dia menelan salivanya susah payah. “Ra-Raka… Raka, apa dia sudah pulang?” tanta Aluna. Tatapannya mengarah ke pintu utama, membuat Raka ikut menoleh ke sana. “Apa dia udah pulan, Raka!” Suara Aluna meninggi. “Jawab aku!” “Hey, semua baik-baik aja, Aluna.” Raka menarik Aluna masuk ke dalam dekapannya. “Semua baik-baik aja. Kamu nggak perlu setakut ini.” Aluna mempererat peluk

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   bab 174. Kedatangan Arga

    “Kapten Raka ada di rumah?” Suara itu membuat Raka dan Aluna membeku. Mereka berdua mengenal dengan jelas siapa pemilik suara itu. “Arga,” gumam Raka. Dia meremas ujung meja, lalu bergegas pergi menuju pintu utama. Sedangkan Aluna, wanita itu justru tak bisa bergerak. Matanya terus menatap kepergian Raka. Rahangnya mengeras dengan tangan mencengkram sendok. “Jadi dia juga ada di sini?” gumam Raka dengan suara yang nyaris tak terdengar. “Arga… si editor itu?” Aluna perlahan berdiri dengan kaki yang sedikit gemetar. Napasnya sudah sedikit tersengal. Di dalam kepala Aluna terus terbayang ucapan-ucapan Arga di ruang tunggu rumah sakit kala itu. “Luna?” Suara Raka dari arah ruang depan membuat Aluna tersadar dari lamunannya. Namun tubuhnya masih terasa kaku. Jemarinya dingin walau telapak tangannya mulai berkeringat. Dia menelan ludah pelan. Langkah kaki terdengar mendekat dari arah pintu utama. Disusul suara Mbok Sari yang masih terdengar ramah menyambut tamu. “Masuk dulu Pak

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   24. Kemunculan Nama Baru

    Langkah kaki terdengar dari belakang. Perlahan, Aluna menoleh, lalu tersenyum lelah pada pria berjas yang masih saja menguntitnya tanpa lelah. “Dia akan sadar.” Suara berat itu terdengar sangat tenang. “Kalau tidak ada komplikasi, ya,” jawab Aluna datar.

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   23. Melawan Kehendak Penulis

    Aluna menatap pria berjas itu tanpa rasa takut sedikitpun. Sorot matanya tetap tenang. Dia percaya kalau apa yang baru saja dia lakukan memang bukan kesalahan. Dan sebagai dokter, dia berhak untuk melanjutkan operasi sampai selesai. Dia tidak akan pernah mundur. Karena kalau di

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   19. Baku Tembak Part 2

    Pertanyaan itu terdengar terlalu cepat, seolah dia tidak menyadari nada suaranya sendiri. Aluna hanya menggeleng pelan. Wajah pucat dan masker oksigen fortable yang ada di tangannya mengatakan hal yang berbeda. Raka memperhatikan wajahnya beberapa deti

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   17. Perburuan di Jalan Sunyi

    Mobil melesat. Mesin meraung keras ketika Raka menekan pedal gas lebih dalam. Jalan yang tadinya lengang tiba-tiba terasa seperti arena perburuan. Aluna mencengkeram pegangan di atas pintu. “Raka mereka makin dekat!” pekiknya. Mobil hitam di belakang mereka mempercepat laju. Lampu depannya meny

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status