LOGINRaka tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada Aluna. Jemari pria itu perlahan mengusap punggung tangan Aluna menggunakan ibu jarinya. Gerakan kecil yang biasanya menenangkan, tapi kali ini justru membuat dada Aluna semakin tidak nyaman.“Kenapa nanya begitu?” tanya Raka akhirnya. “Apa ada yang aneh sama Letkol Arga?”Aluna menggigit bibir bawahnya pelan. Dia sendiri bingung harus menjawab apa. Karena kalau dia terlalu banyak bertanya tentang Arga, Raka pasti mulai curiga.“Aku cuma—” Aluna menghela napas pelan. Dia menggantung kalimatnya. “Ngerasa kamu berubah tiap dengar nama dia. Tadi aja, ekspresi kamu jadi berubah dingin.”Raka terkekeh kecil. Tawa yang jelas tak sampai ke matanya. “Aku berubah tiap dengar banyak nama orang, Luna. Bukan karena Letkol Arga aja.” Aluna sedikit menyandarkan tubuhnya. Dia menatap Raka dengan napas yang berat. “Tapi ini beda, Raka.” Aluna sedikit menekan kalimatnya. Raka terdiam beberapa saat. Dia ingin menceritakan semuanya, tapi Aluna
Hening langsung turun di meja makan. Aluna yang tadi masih memegang sendok perlahan menghentikan gerakannya. Sedangkan Raka, pria itu masih menatap layar ponselnya tanpa berkedip.Getaran ponsel itu berhenti. Namun beberapa detik kemudian, kembali bergetar. Nama yang sama muncul lagi.“Kenapa nggak diangkat?” tanya Aluna hati-hati. “Itu atasan kamu kan? Ko mukanya tegang banget. Apa ada masalah?”Raka tidak langsung menjawab. Rahangnya masih terlihat mengeras. Tatapannya begitu tajam sampai Aluna ikut menahan napas.“Raka?” tanya Aluna lebih hati-hati. “Kamu baik-baik aja?”Pria itu akhirnya menghela napas panjang. Lalu membalik ponselnya hingga layar menghadap meja.“Gangguan pagi,” gumamnya datar. “Nggak harus diangkat. Ini belum masuk jam kerja.”Aluna mengernyit samar. Dia tidak percaya akan mengatakan ini. Karena Raka sebelumnya yang ia kenal, tidak akan pernah mengabaikan panggilan atasannya semudah ini.“Gangguan? Yakin?” tanya Aluna sedikit mengintrogasi. Raka kembali menyand
Raka benar-benar menunggu di bawah. Bahkan ketika Aluna selesai mandi dan turun dengan rambut yang masih setengah basah, pria itu sudah duduk santai di meja makan sambil membaca sesuatu di tablet hitam miliknya.Namun begitu mendengar suara langkah Aluna menuruni tangga, fokus Raka langsung buyar.Pria itu mendongak. Dan beberapa detik kemudian, sudut bibirnya perlahan terangkat.“Kenapa?” tanya Aluna heran ketika Raka terus menatapnya tanpa berkedip. “Ngeliatin aku udah kayak ngeliatin musuh gitu.”Raka tidak langsung menjawab. Dia menopang dagunya dengan satu tangan. Lalu tersenyum cukup lebar. “Kamu cantik,”gumamnya. “Sangat cantik.”Pipi Aluna langsung menghangat, dan kembali merona. Dia buru-buru menunduk dalam. “Baru mandi juga, ya pasti lah cantik,” balas Aluna berusaha untuk cuek. “Nggak usah berlebihan.”“Aku serius. Bahkan ketika kamu baru bangun tidur, kayak tadi,” goda Raka. “Rambut acak-acakan. Mata merah, muka kucel. Kamu tetep cantik.”Aluna buru-buru menarik kursi di
Aluna berkedip cepat. Tanpa sadar, sudut bibirnya sedikit terangkat. Wajahnya semakin memerah layaknya strawberry. Namun kehangatan itu adalah kehangatan yang mereka rindukan selama ini. “Aku mencintaimu, Aluna.” Raka mendekat tubuh wanitanya. Hingga mereka sama-sama terlelap di dunia dan mimpi yang sama. Pagi menyapa begitu berani tanpa aba-aba. Aluna mengerjap, kala sinar mentari menerobos masuk lewat tirai yang terbuka. “Raka…” hembusan napas Raka membuat Aluna mengulas senyum. “Kamu masih ada di sini.” Matanya kembali berair. “Ini bukan mimpi. Kamu masih ada sama aku.” Aluna buru-buru menyeka air matanya, ketika Raka menggeliat. Mata pria itu perlahan terbuka. Lalu tersenyum ketika bertemu tatap dengan Aluna. “Gimana tidurnya?” tanya Raka pelan. Dia kembali menuntun Aluna ke dalam dekapan. “Kamu nggak mimpi buruk lagi?” Aluna menggeleng samar. Dia membalas pelukan Raka dengan sama eratnya. “Aku tidur nyenyak banget,” bisiknya. “Bahkan demamku juga udah hilang. Aku ud
Aluna langsung tersedak ludahnya sendiri. Dia sampai terbatuk sambil memukul dada pelan. “Apa?” tanyanya dengan wajah memerah. “Pu-punya cucu?”Raka justru tertawa kecil melihat reaksi Aluna. Dadanya ikut bergetar karena tawa itu. Tangannya masih sibuk mengusap pelan rambut Aluna yang sedikit berantakan.“Kenapa kaget begitu?” godanya santai. “Papa sama Mama cuma bilang pengen gendong cucu sebelum tua.”“Bukan itu masalahnya!” protes Aluna cepat. Dia mendorong dada Raka pelan, walau pipinya sudah panas bukan main. Wajahnya semakin merah menahan malu. “Ka-kamu ngomongnya tiba-tiba. Aku… aku cuma kaget aja.”Raka mengangkat sebelah alisnya jahil. Dia sedikit mencubit pipi Aluna. “Lah, memangnya salah?” tanya Raka. Dia sedikit mengangkat sebelah alisnya. “Yang aku goda istri sendiri, itu nggak papa dong. Kalau yang aku goda orang lain, baru salah.”Aluna mendelik kesal. Namun ekspresi kesal itu justru membuat Raka semakin gemas. Pria itu terkekeh kecil sambil menarik tubuh Aluna lebih
Arman tidak langsung menjawab. Dia menatap Raka heran. “Maksudmu?” tanya Arman dengan sebelah alis terangkat. “Papa pasti mengenalnya, Raka.”Raka mengerjap samar. “Ah—maksud aku…”“Papamu jelas mengenal Letkol Arga, Raka,” potong Inaya. Dia meraih teh di gelas keramik, lalu menyeruputnya pelan. “Yang ngenalin kamu sama Aluna dulu, kan juga Letkol Arga. Masa kamu lupa?”Tubuh Raka kembali meremang. Dia mendadak pucat pasi. Jelas yang mengenalkannya dengan Aluna dulu adalah Kolonel Andi. Karena hanya dia lah yang dekat dengan Raka dulu. ‘Ceritanya benar-benar berubah? Sejauh ini?’ pikir Raka. Ada rasa lega karena mungkin saja cerita ini jauh lebih baik dari sebelumnya, tapi Arga? Raka jelas mengkhawatirkannya. Karena di cerita sebelumnya, Arga adalah villain yang sebenarnya. “Raka.” Suara Arman membuat Raka terbangun dari lamunannya. Dia mengangkat wajahnya, lalu menatap Arman. “Y-ya?”“Jaga Aluna,” kata Arman. “Papa sama Mama nggak bisa menginap. Oma kalian kasihan ditinggal sendir
Pertanyaan itu terdengar terlalu cepat, seolah dia tidak menyadari nada suaranya sendiri. Aluna hanya menggeleng pelan. Wajah pucat dan masker oksigen fortable yang ada di tangannya mengatakan hal yang berbeda. Raka memperhatikan wajahnya beberapa deti
Mobil melesat. Mesin meraung keras ketika Raka menekan pedal gas lebih dalam. Jalan yang tadinya lengang tiba-tiba terasa seperti arena perburuan. Aluna mencengkeram pegangan di atas pintu. “Raka mereka makin dekat!” pekiknya. Mobil hitam di belakang mereka mempercepat laju. Lampu depannya meny
Halaman kantor polisi sektor itu tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa motor terparkir dan satu mobil patroli yang berdiri di dekat gerbang. Aluna masih duduk di dalam mobilnya. Kedua tangannya memegang setir dengan lemah. Napasnya belum benar-benar stabil setelah kejadian tadi. Ia menatap ke
Mobil Aluna melaju cukup cepat di jalan raya yang masih dipenuhi kendaraan pagi hari. Matahari sudah naik lebih tinggi, tapi udara kota masih terasa sedikit dingin. Mungkin efek dari pagi tadi yang sempat turun hujan. Kedua tangan Aluna mencengkeram stir dengan erat. Ia tidak benar-benar tahu k







