Akhirnya Aluna hanya mendengus kasar, seraya menyugar rambutnya. “Kalian nggak perlu tahu,” ujarnya singkat. “Yang jelas, aku harus pergi sekarang.” Salah satu pengawal kembali menggeleng. “Kami tidak bisa, Bu. Ini sudah perintah.” Hening beberapa detik. Tatapan Aluna yang sebelumnya penuh emosi, perlahan berubah lembut. Dia menarik napas panjang, memejamkan mata sejenak. Berusaha mengontrol setiap denyut emosi di dalam dada. “Baiklah,” katanya pelan. Kedua pengawal itu sedikit lengah, karena menyangka Aluna akan menurut kali ini. Dan dalam satu gerakan cepat, Aluna berbalik, menarik vas bunga di meja samping, lalu menjatuhkannya ke lantai. PRANG! Suara pecahan kaca menggema. Keduanya refleks menoleh ke arah suara. Cukup satu detik, Aluna langsung berlari melewati mereka. “Bu—!” Salah satu dari mereka mencoba mengejar, tapi langkahnya mendadak
閱讀更多