Damar menatap tangan Alvaro yang dibalut perban dengan ngeri, seolah melihat bom waktu yang siap meledak. Ketika Alvaro merangkul pundaknya, tubuh Damar langsung kaku dan keringat dingin mengucur deras. Alvaro justru tersenyum lebar, tampak sangat polos seperti anak kecil tanpa dosa.“Var, mending kita ke pantry dulu deh. Ngopi dulu biar segar sebelum kerja," ajak Damar dengan suara gemetar, berusaha menjauhkan Alvaro dari kerumunan karyawan yang terus berbisik.Begitu sampai di pantry yang sepi, Damar langsung mengunci pintu. Ia menyodorkan ponselnya dengan tangan gemetaran. Di layar itu, terlihat video berkualitas rendah namun jelas menunjukkan Alvaro menghajar empat orang bertubuh besar di bawah hujan. Suara tulang patah terdengar nyata, diikuti siluet Alvaro yang sedang merokok dengan tenang di tengah tumpukan manusia yang tak berdaya."Ini lo kan, Var? Video ini udah viral di grup kantor! Lo nggak takut dipecat atau dilaporin polisi?" tanya Damar panik, napasnya masih tersengal
Last Updated : 2026-05-12 Read more