"Nyonya Herlina... gawat... Nyonya!" Wibowo berlari tergesa-gesa memasuki ruang tengah, napasnya memburu dengan wajah sepucat kertas.Herlina yang sedang meletakkan cangkir porselennya mendongak, alisnya bertaut tajam melihat sikap kepala pelayan itu. "Ada apa, Wibowo? Jaga sikapmu.""Adik laki-laki Darian... masih hidup," ucap Wibowo setengah berbisik, tetapi sanggup meruntuhkan seluruh ketenangan Herlina dalam sekejap.Tubuh Herlina membeku. Cangkir di tangannya hampir saja terlepas jika ia tidak segera menahannya dengan jemari yang mendadak bergetar. Selama belasan tahun, ia hidup dengan keyakinan penuh bahwa Rayan sudah tewas di jalanan setelah dibuang, tepat seperti laporan yang dibawa Surya padanya kala itu.Batin Herlina berkecamuk hebat, dihantam rasa curiga dan kepanikan yang membakar dada. Jika Rayan masih bernapas hingga detik ini, lantas siapa jasad yang dimakamkan dulu? Atau lebih buruk lagi, siapa yang berani membohonginya selama bertahun-tahun ini?“Jangan bohong ka
Read more