Wajah Damien memucat, urat-urat di rahangnya menegang keras. Penolakan bergemuruh di dadanya, meronta untuk disuarakan, namun deretan angka 99,90% di kertas termal itu—fakta sains yang tak terbantahkan.Tanpa menatap wajah lelaki tua itu, Damien menyahut, "Selama ini yang aku tahu hanya Kakek Aiden dan Kakek Danny.” Damien, menekankan setiap suku kata seolah nama itu adalah perisai terakhirnya. "Bukan Anda."Mendengar nama itu disebut, tidak ada secercah pun keterkejutan di wajah sang lelaki tua. Alih-alih marah karena ditolak oleh cucu kandungnya sendiri, bibirnya justru melengkung tipis, membentuk seringai kecil yang begitu dingin dan meremehkan.Lelaki tua itu mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua tangannya bertumpu kuat pada gagang perak tongkat mahoninya."Aiden mungkin memberimu makan, menyekolahkanmu, dan menyuapimu dengan kasih sayang kelas menengah," lanjut sang pria tua. “Tetapi darah tetap saja lebih kental dari air.”“Dan siapakah Anda?” Damien mendengus pelan. “Aku bahka
Baca selengkapnya