“Damien?” panggil Anjas kala Damien tidak merespons.Damien menutup amplop cokelat itu dengan gerakan kasar, lalu mengembalikannya ke atas meja Anjas. Ia menatap detektif di hadapannya dengan ekspresi dingin yang tidak bisa dibantah."Cukup sampai di sini," ucap Damien datar.Anjas dan sang detektif saling berpandangan, tampak bingung dengan perubahan sikap Damien yang begitu drastis. "Tapi Dam, kita baru saja menemukan titik terang. Bukti ini bisa menjadi kunci untuk—""Aku tidak butuh kunci untuk pintu yang tidak ingin kubuka," potong Damien, suaranya kini lebih rendah dan tajam. "Foto pria itu, rekam medisnya, kecelakaan itu... semuanya hanya masa lalu yang sudah membusuk. Lagipula, apa gunanya aku tahu siapa mereka? Mereka bahkan tidak tahu kalau Papa masih hidup, apalagi tahu keberadaanku."“Baiklah, kalau begitu tugas saya sudah selesai.” Pak Willy berdiri dan berpamitan.Damien bangkit dari kursinya, merapikan setelan jasnya dengan gerakan tenang yang menunjukkan bahwa keputusa
Read more