“Ini akta kelahiran saya, Pak.” Aurin menyerahkan benda itu pada petugas imigrasi. Setelahnya, ia langsung diminta berfoto dan diwawancara. Rayden, yang ada di sampingnya, tak banyak bicara terkait Aurin. Ia hanya menjawab seperlunya saja sebagai penanggung jawab wanita itu. Begitu selesai, mereka pulang secara terpisah. Aurin mengurut dada lega. Setidaknya, ia tak perlu berhadapan dengan sikap dingin sang majikan. Di dalam taksi yang ia tumpangi, Aurin meminta sang sopir bergegas. “Pak, bisa lebih cepat ke rumah sakit X?” Ia harus segera di rumah sakit pertama untuk mengambil hasil tes DNA. Pihak rumah sakit baru saja menghubunginya siang ini, hasilnya tes DNA telah keluar. Dan paling lambat, ia harus mengambilnya sebelum pukul tiga sore. “Bisa, Nona. Tapi kalau mau cepat, kita lewat tol. Ada tambahan biaya.” “Tidak masalah, Pak.” “Baik, Nona.”
Baca selengkapnya