“Ini surat fit to fly yang kamu inginkan!”Dengan cepat, Ken menyodorkan kertas itu pada Dea, sebagai formalitas saja. Tapi bagi Dea, kertas itu adalah kunci kecil untuk membuka jalan yang dia mau.“Good, itu baru namanya sahabat,” kata Dea. Tanpa ragu, dia menepuk pipi kiri Ken sebanyak dua kali. Senyum lebarnya bahkan tak dapat disembunyikan, seah ada kepuasan dan sedikit kemenangan yang dia nikmati dari situasi ini.“Oh ya,” lanjut Dea santai, seolah percakapan sebelumnya tak pernah setengah itu. “Aku tadi melihat sesuatu di laman pencarian internet.”Ken menaikkan sebelah alisnya dan bersandar pada kursi putarnya. Tatapannya mengarah lurus pada Dea, seolah dia tengan bertanya, “Apa lagi?”Dea tersenyum ketika mengatakan, “Kamu harus ikut aku ke Paris! Kamu harus jadi dokter pribadi untuk Aurin! Setuju? Semua akomodasi, aku yang tanggung.”“Aku tidak bisa!” sahut Ken cepat, Dea mengernyit, Tidka suka pada Ken yang tak mau diajak bekerja sama. “Why?”Ken menatap Dea datar, dia mend
Read More