“Saya mau kamu yang mendesain halaman tersebut agar terlihat asri dan teduh, sesuai mau kamu. Bisa?” Aurin terkejut mendengar permintaan Rayden yang tidak biasa itu. Dia pikir, masalah desain bisa diserahkan sepenuhnya pada arsitektur. “K-kenapa saya, Tuan? Saya tidak pandai mendesain. Kalau tidak cocok bagaimana?” Aurin berkelit. Sebenarnya, dia tidak keberatan. Tapi yang membuat hatinya berat, bagaimana kalau Dea tahu? Dia beralasan lagi agar lebih meyakinkan, “Lagi pula, selera saya dan Tuan berbeda. Apalagi kalau Nyonya tahu, Nyonya bakalan musuhin saya lagi.” “Kalau begitu, kamu katakan saja tema pekarangan asri seperti yang kamu mau. Nanti, biarkan tukangnya yang eksekusi.” Rayden menimpali. “Lagi pula, acara itu harus cocok dengan tema yang kamu ajukan ke Mama.” Meski sebenarnya masih ragu, tapi Aurin hanya bisa menurut. “Oh, baiklah kalau begitu. Saya pikirkan dulu, Tuan.” Rayden menanggapi, “Hm.” Sebelum pergi dan berpamitan, Aurin membungkuk, “Kalau begitu, saya p
Read more