“Yakin hanya mulas biasa? Tidak sampai kontraksi, ‘kan?”Rayden baru saja menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi pesawat menyusul Dea. Tapi, dia justru mendapatkan pesan dari Rega yang membuat duduknya tidak tenang.Rega bilang, Aurin mengalami mulas. Rega sempat mengajak Aurin duduk, tapi Aurin tidak mau dan segera kembali ke pesawat.Rayden menunggu balasan Rega yang baginya terlalu lama. Rahangnya mengeras usai memasukkan ponsel ke saku dalam coat-nya, jemarinya ikut mengetuk sandaran kursi dengan ritme pelan—mencerminkan kegelisahan yang tak dapat dia sembunyikan.Dea, yang duduk di sampingnya memicingkan mata. Sambil memutar tubuh menghadap suaminya, ia bertanya, “Ada masalah?”Rayden mengangguk, tapi dia langsung mencari alibi. “Proyek di Singapura didatangi preman lagi. Biasa, minta jatah.”“Sudah teratasi?”“Aman,” kata Rayden. Beruntung Dea tak lagi bertanya sebab fokus pada drama korea di tab-nya.Di kursinya, Rayden tampak tenang. Namun, tidak dengan pikirannya. Sedetik saja,
Read More