LOGIN“Eh, Paman Viktor? Kenapa Paman di sini? Nggak ikut pelantikan?” tanya Clara sembari melepas pelukannya.Viktor tersenyum tipis. “Aku mengundurkan diri. Red Eyes akan dibangun kembali. Kalau aku terus di anggota parlemen, akan mudah dilacak. Jadi, lebih baik aku melakukan hal lain untuk menutupi pekerjaan asliku.”“Oh, begitu, ya.” Clara kemudian beralih ke Amanda. “Omong-omong, kalau Mama bekerja sebagai Red Eyes secara resmi lagi, apa aku akan tetap di Janvel seterusnya?” Amanda mengusap kepala Clara pelan tanpa memudarkan senyumnya. “Nggak, kok. Clara akan tetap tinggal bersama Mama.”“Memangnya nggak bahaya?” tanya Clara, masih ingat betul kejadian yang menimpa dirinya dan Amanda di rumah aslinya dulu.“Tenang saja. Red Eyes nanti akan membangun markas baru, dan kita akan punya bagian sendiri di sana untuk tempat tinggal. Jadi, Mama bisa membersamaimu dan Red Eyes sekaligus. Soal berangkat sekolah, akan kami bangun akses tersembunyi yang nggak diketahui siapa pun,” tutur Ama
“Berita Nasional terbaru hari ini, hasil Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Santara akhirnya resmi diumumkan. Berikut kami tampilkan hasil akhir perolehan suara dari ketiga pasangan calon presiden dan wakil presiden.” Suara pemberitaan yang menggema di setiap sudut stasiun membuat Clara sempat mendongak sekilas.Matanya bergerak menatap layar besar yang terpampang di tengah-tengah peron. Layar yang seukuran TV itu terdapat empat buah, terpasang di masing-masing sisi sebuah pilar. Biasanya layar itu menampilkan program stasiun TV yang berbeda-beda. Tapi berhubung hari ini adalah hari istimewa bagi rakyat Santara, semuanya sengaja diatur untuk menampilkan berita.Clara kembali menatap layar ponselnya setelah menonton berita beberapa detik. Bukan karena dia tidak tertarik dengan hasil pemilu presiden, tapi ada yang lebih penting darinya. Hari ini juga hari istimewanya, di mana dia akan bertemu dengan ibunya yang sudah lama sekali tidak bertatap muka.Meski tampak tak peduli, C
Melihat Viktor yang berdiri tanpa ragu menggantikan posisinya, Amanda tertegun. Entah dari kapan Viktor bersiap-siap akan hal ini. Pria itu tidak terlihat kaku, bicaranya lugas dan tegas di hadapan anggota lain. Dia benar-benar menggantikan posisi Amanda dengan baik. “Dengar semua.” Viktor berseru lantang untuk mengheningkan ruangan yang sempat ramai oleh desas-desus para anggota. “Kita masih mendapat sedikit bukti untuk perdagangan manusia, organ tubuh, dan obat keras. Untuk kasus narkoba dan uang palsu lebih mudah didapat, juga untuk penyusup di tim sukses sudah ditemukan. Artinya, kita masih perlu menjalankan strategi yang sama untuk beberapa hari ke depan. Sesuai arahan Nyonya Amanda, kita baru bisa melaju ke langkah berikutnya jika bukti sudah sangat cukup.” Dia mengimbuhkan, “Tidak perlu terburu-buru, ingat kata-kata Red One. Daripada salah langkah karena terlalu agresif, lebih baik berjalan perlahan dengan tetap waspada. Kita masih punya waktu lebih dari cukup sampai pemilu
"Sampai jumpa, Mama!” Clara berseru dari di depan kereta, melambai-lambaikan tangan pada Amanda. Di sebelah kanan-kirinya, Lukas dan Miria ikut melambai serta mengucapkan selamat tinggal. Mereka semua membawa koper besar dan tas ransel. Sementara Amanda berada beberapa meter dari mereka, menyaksikan mereka masuk ke kereta tanpa dirinya. “Jaga dirimu, Clara! Kita akan bertemu lagi nanti,” balas Amanda dengan senyum terlebarnya. Amanda tidak berhenti melambai sampai Clara dan orang tuanya menghilang dari pandangannya, sekalipun mereka sudah di dalam kereta dan memandanginya untuk terakhir kali. Hari ini mereka memang berpisah, tapi itu sama sekali tidak meninggalkan kesedihan dalam hatinya. Karena dia tahu, perpisahan sementara ini adalah jalan terbaik agar hidup Clara tetap terjamin aman. Beberapa malam sebelumnya, Amanda sudah membulatkan tekad setelah berdiskusi berkali-kali dengan Lukas dan Miria. Demi keselamatan Clara, mereka akan mengungsikan Clara ke Janvel, kota di s
Pernyataan Clara sangat tepat sasaran, membuat hati Amanda terasa dihunjam tombak berkali-kali. Tapi dia tak mau mengakuinya. Tidak di hadapan Clara. Dia takut Clara akan kecewa dan merasa tidak diprioritaskan. Apalagi, dia sudah berjanji untuk menjamin hidup Clara tetap aman.Clara menatap Amanda sendu, menyadari bulir-bulir air mata bertumpuk di pelupuk mata ibunya. Dia meraih tangan Amanda, menggenggamnya penuh kehangatan. Dengan memosisikan diri di hadapan sang ibu, Clara kembali bicara.“Mama tahu, waktu aku melihat Mama berdiskusi dengan para anggota Red Eyes di markas ... aku merasa Mama sangat keren. Sangat berwibawa, membuatku percaya kenapa Mama bisa sampai menjadi ketua. Dan bagiku itu sangat membanggakan. Aku bangga punya ibu yang berjasa besar bagi negara,” tutur Clara, “selain itu, aku tahu kalau Mama menganggap mereka bukan sekedar bawahan atau rekan kerja. Sekali lihat saja kelihatan.”Senyum manis di wajah Clara tersemat selagi dia menambahkan, “Jadi, kalau Mama m
Amanda mengulum bibir, tak mampu berkata-kata setelah mendengarkan penuturan Liliana. Entah apa yang sudah Tiana bicarakan dengan keluarganya sampai adiknya berbesar hati menerima keadaan seperti ini. Tak mudah untuk meyakinkan orang lain tentang pekerjaan berbahaya ini, itulah mengapa banyak anggota Red Eyes yang dulu menyimpan rahasia pekerjaannya seperti Amanda. Kalau Liliana dan keluarga Tiana lainnya dapat menerima kondisi Tiana dengan lapang dada, artinya visi keluarga mereka pun tak bertentangan dengan apa yang selama ini Tiana yakini. Padahal, Amanda kira dia akan dicaci-maki dan disalahkan, tapi kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. “Kami tahu pekerjaan Kak Tia memang sangat berbahaya, tapi dia menyukainya dan selalu bekerja dengan sungguh-sungguh. Meski penuh bahaya, kami paham betapa berjasanya dia dan rekan-rekannya seperti Anda dalam menjaga negeri ini.” Liliana bicara kembali. “Pahlawan dalam bayang-bayang. Itu yang Kak Tia ucapkan setiap kali menceritakan pekerja
“Kamu tahu, gelagatmu itu seperti pencuri yang tertangkap. Percuma saja menyembunyikan semuanya dari kami,” tukas Viktor, memainkan tang itu di tangan, “jadi, tolong jawab jujur. Sebelum aku mulai mencabut kukumu dengan ini.”Ujung tang yang terbuka ditempelkan ke kuku jari tangan Ferry. Pria itu
“Astaga, kepalaku sakit sekali ... Di mana ini ...?”Seorang pria mengeluh dengan suara berat yang parau. Sekujur tubuhnya terasa sakit dan pegal. Lebih parahnya lagi, kedua lengan dan kakinya tidak bisa digerakkan. Dia tersentak kaget saat melihat tubuhnya terikat di sebuah kursi. Tangan dan ka
"Oh, orang itu tadi ke sana, Pak. Rumahnya kayaknya di ujung jalan sana, yang cat biru, dekat sungai.” Berdasarkan keterangan dari warga sekitar, Viktor bersama dua anggota Red Eyes lain, Cole dan Ben, pergi menyusuri jejak si botak di Desa Marville. Atas perintah langsung dari Amanda. Desa in
Amanda dan Ingrid terdiam setelahnya, menimbang-nimbang kembali usulan Veronica. Jika dipikir-pikir lagi, hal tersebut ada benarnya. Mereka tidak bisa melacak dari hari kejadian karena rekamannya tidak ada. Petunjuk soal pelaku yang mereka punya pun hanya penampilan luar.Sementara itu, tidak ada







