LOGINMelihat Viktor yang berdiri tanpa ragu menggantikan posisinya, Amanda tertegun. Entah dari kapan Viktor bersiap-siap akan hal ini. Pria itu tidak terlihat kaku, bicaranya lugas dan tegas di hadapan anggota lain. Dia benar-benar menggantikan posisi Amanda dengan baik. “Dengar semua.” Viktor berseru lantang untuk mengheningkan ruangan yang sempat ramai oleh desas-desus para anggota. “Kita masih mendapat sedikit bukti untuk perdagangan manusia, organ tubuh, dan obat keras. Untuk kasus narkoba dan uang palsu lebih mudah didapat, juga untuk penyusup di tim sukses sudah ditemukan. Artinya, kita masih perlu menjalankan strategi yang sama untuk beberapa hari ke depan. Sesuai arahan Nyonya Amanda, kita baru bisa melaju ke langkah berikutnya jika bukti sudah sangat cukup.” Dia mengimbuhkan, “Tidak perlu terburu-buru, ingat kata-kata Red One. Daripada salah langkah karena terlalu agresif, lebih baik berjalan perlahan dengan tetap waspada. Kita masih punya waktu lebih dari cukup sampai pemilu
"Sampai jumpa, Mama!” Clara berseru dari di depan kereta, melambai-lambaikan tangan pada Amanda. Di sebelah kanan-kirinya, Lukas dan Miria ikut melambai serta mengucapkan selamat tinggal. Mereka semua membawa koper besar dan tas ransel. Sementara Amanda berada beberapa meter dari mereka, menyaksikan mereka masuk ke kereta tanpa dirinya. “Jaga dirimu, Clara! Kita akan bertemu lagi nanti,” balas Amanda dengan senyum terlebarnya. Amanda tidak berhenti melambai sampai Clara dan orang tuanya menghilang dari pandangannya, sekalipun mereka sudah di dalam kereta dan memandanginya untuk terakhir kali. Hari ini mereka memang berpisah, tapi itu sama sekali tidak meninggalkan kesedihan dalam hatinya. Karena dia tahu, perpisahan sementara ini adalah jalan terbaik agar hidup Clara tetap terjamin aman. Beberapa malam sebelumnya, Amanda sudah membulatkan tekad setelah berdiskusi berkali-kali dengan Lukas dan Miria. Demi keselamatan Clara, mereka akan mengungsikan Clara ke Janvel, kota di s
Pernyataan Clara sangat tepat sasaran, membuat hati Amanda terasa dihunjam tombak berkali-kali. Tapi dia tak mau mengakuinya. Tidak di hadapan Clara. Dia takut Clara akan kecewa dan merasa tidak diprioritaskan. Apalagi, dia sudah berjanji untuk menjamin hidup Clara tetap aman.Clara menatap Amanda sendu, menyadari bulir-bulir air mata bertumpuk di pelupuk mata ibunya. Dia meraih tangan Amanda, menggenggamnya penuh kehangatan. Dengan memosisikan diri di hadapan sang ibu, Clara kembali bicara.“Mama tahu, waktu aku melihat Mama berdiskusi dengan para anggota Red Eyes di markas ... aku merasa Mama sangat keren. Sangat berwibawa, membuatku percaya kenapa Mama bisa sampai menjadi ketua. Dan bagiku itu sangat membanggakan. Aku bangga punya ibu yang berjasa besar bagi negara,” tutur Clara, “selain itu, aku tahu kalau Mama menganggap mereka bukan sekedar bawahan atau rekan kerja. Sekali lihat saja kelihatan.”Senyum manis di wajah Clara tersemat selagi dia menambahkan, “Jadi, kalau Mama m
Amanda mengulum bibir, tak mampu berkata-kata setelah mendengarkan penuturan Liliana. Entah apa yang sudah Tiana bicarakan dengan keluarganya sampai adiknya berbesar hati menerima keadaan seperti ini. Tak mudah untuk meyakinkan orang lain tentang pekerjaan berbahaya ini, itulah mengapa banyak anggota Red Eyes yang dulu menyimpan rahasia pekerjaannya seperti Amanda. Kalau Liliana dan keluarga Tiana lainnya dapat menerima kondisi Tiana dengan lapang dada, artinya visi keluarga mereka pun tak bertentangan dengan apa yang selama ini Tiana yakini. Padahal, Amanda kira dia akan dicaci-maki dan disalahkan, tapi kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. “Kami tahu pekerjaan Kak Tia memang sangat berbahaya, tapi dia menyukainya dan selalu bekerja dengan sungguh-sungguh. Meski penuh bahaya, kami paham betapa berjasanya dia dan rekan-rekannya seperti Anda dalam menjaga negeri ini.” Liliana bicara kembali. “Pahlawan dalam bayang-bayang. Itu yang Kak Tia ucapkan setiap kali menceritakan pekerja
“Anda ingin menjenguk Tiana Rossfield?” Seorang perawat di rumah sakit Mandala bertanya ramah pada Amanda yang baru saja datang. “Mohon maaf, berdasarkan keterangan dokter, kondisi Nyonya Rossfield belum membaik. Beliau masih koma dan Anda hanya bisa menengoknya dari luar jendela.” “Tidak apa-apa. Saya memang mau melihat kondisi terkininya,” kata Amanda. Perawat itu mengangguk, lalu bertanya lagi, “Boleh beritahu Anda siapanya Nyonya Rossfield?” “Saya ... rekan kerjanya,” jawab Amanda lirih dan ragu-ragu. “Baik, Anda bisa ke ruang nomor 124 di lantai tiga, ya. Beliau sudah dipindahkan di ruang rawat inap biasa karena kondisinya sudah stabil, tapi masih memerlukan alat-alat pendukung,” jelas si perawat. Amanda mengangguk dan setengah membungkuk untuk berterima kasih. Dia pun menengok ke belakang, bertanya pada Clara yang datang bersamanya, “Kamu mau menunggu di lobi saja? Atau ikut mama?” “Kalau aku menunggu di lobi, buat apa aku ikut Mama pergi? Aku kan memang bertugas mene
“Nyonya Amanda, pergi keluar kota sekarang menurutku adalah pilihan paling aman untuk Clara,” kata Viktor yang mendenga pertanyaan setengah putus asa dari Clara. Amanda masih terdiam, tapi napasnya memburu. Dia mengusap wajah, berusaha menenangkan diri agar tidak mengambil keputusan dengan terburu-buru. Untuk saat ini, hatinya masih condong mementingkan keselamatan Clara. Meski tidak dipungkiri, nasib para anggotanya terus bersemayam di kepalanya. “Kalau Anda mau, aku bisa membantu menemukan tempat baru yang cocok untuk ditinggali. Aku juga punya koneksi di luar kota,” tawar Viktor, mengira yang menjadi pertimbangan Amanda adalah tempat tinggal yang baru. “Aku justru minta maaf karena sudah banyak merepotkanmu, Viktor. Juga teman-teman yang lain. Kalian sudah banyak sekali membantuku, jadi ... aku merasa tidak enak,” ucap Amanda, setengah membungkukkan badan. Mendapati atasannya sendiri membungkuk di hadapannya, Viktor buru-buru mendekat. Dia menahan kedua pundak Amanda agar ti
“Kalau begini terus, aku bisa-bisa dikucilkan! Mama tahu nggak, sih, kalau mereka bilang orang tuaku ‘strict’? Yang terlalu ketat bahkan sampai jajan di kafe saja nggak boleh?” Clara benar-benar mengeluarkan apa saja yang selama ini dipendam olehnya. Amanda melotot, hendak menjawab perkataan Clara
“Siapa itu yang teriak-teriak?” Amanda tak sadar bahwa pintu rumahnya masih terbuka. Jeritannya barusan merambat ke rumah tetangga yang hanya dibatasi tembok. Sebelum mereka mengetahui kalau dirinya yang mengundang perhatian, Amanda segera menutup pintu. Tubuhnya terduduk lemas di balik pintu. A
Mata Amanda melebar begitu membaca tulisan di kartu ucapan itu. Si pengirim tidak menyebut nama Amanda, tapi Amanda tahu kalau itu memang ditujukan padanya. Keringat dingin mulai membasahi dahi Amanda. Jantungnya berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Bibirnya pun gemetar selagi matanya fokus ke d
Dahi Amanda berkerut. Dia tahu betul banyak murid yang jajan sepulang sekolah. Namun setahu Amanda, Clara tidak pernah jajan di luar sekolah. Uangnya hanya dipakai di kantin. Amanda juga selalu bilang untuk tunggu di gerbang saja. Amanda tak mau percaya kalau Clara memang pergi ke gang sebelah unt







