Sore harinya, ketika Liana dan Mira hendak menutup kafe, Alex datang menghampiri Liana. “Kak Liana!” panggil Alex dari kejauhan. Liana menoleh. Ia melihat Alex mendekat dengan wajah cemberut. Tanpa sadar, tangannya menyentuh pipinya yang masih terasa perih. “Aw…” lirihnya pelan. Alex yang melihat itu langsung mempercepat langkahnya. Dengan rasa khawatir, ia bertanya, “Kak Liana, kamu nggak apa-apa, kan?” Liana mengalihkan pandangan. “Aku nggak apa-apa kok. Sudah… aku mau tutup toko. Jadi jangan ganggu dulu, ya.” “Kak, pipinya masih merah…” Alex menahan diri, tapi tetap khawatir. “Kalau sakit, seharusnya kamu istirahat, bukan kerja.” Liana tersenyum tipis, “Kalau aku istirahat, siapa yang kerja? Kamu?” Alex terdiam. “Udah, Lex. Nada suaranya terdengar datar. Mira yang sudah selesai merapikan meja memanggil dari dalam. “Lin, ayo kita pulang!” “Iya, ayo,” jawab Liana singkat. Ia langsung berjalan pergi, mengabaikan Alex. “Kak Liana—” Alex mencoba me
Read more