Share

Pernikahan Tanpa Cinta: Dimanja Ceo Yang Tak Menginginkanku
Pernikahan Tanpa Cinta: Dimanja Ceo Yang Tak Menginginkanku
Author: Xau

‎

Author: Xau
last update publish date: 2026-03-11 13:09:03

"Kalau kamu lompat sekarang, nenekmu tetap tidak akan selamat.”

Suara itu muncul di tengah hujan.

Liana membeku. Kakinya sudah berada di ujung jembatan, tubuhnya condong ke depan, tapi kalimat itu seperti menariknya kembali ke dunia nyata.

Perlahan, dia menoleh.

Seorang pria berdiri beberapa langkah di belakangnya. Jas hitamnya basah terkena hujan, tapi sikapnya tetap tenang, seolah situasi ini bukan hal yang mengejutkan baginya.

Liana mengernyit. “Apa maksudmu…?”

Pria itu melangkah mendekat, tapi tetap menjaga jarak.

“Biaya operasi nenekmu seratus ribu dolar. Kamu sudah mencoba pinjam ke keluarga, ke bank, bahkan menjual barang yang kamu punya.”

Napas Liana langsung terhenti.

“Dari mana kamu tahu itu?”

Tatapan pria itu datar. “Itu tidak penting.”

Hujan semakin deras.

Jantung Liana berdegup kencang. Untuk pertama kalinya sejak tadi, rasa takutnya bukan lagi pada sungai di bawah… tapi pada pria di depannya.

“Siapa kamu,"

“Arsen.” Jawabannya singkat.

Liana menggenggam tangannya erat. “Kalau kamu cuma mau mempermainkan aku, lebih baik pergi.”

“Aku tidak punya waktu untuk itu.”

Nada suaranya tenang, tapi tajam. Tidak ada keraguan di sana.

Liana tertawa kecil, pahit.

“Semua orang juga bilang begitu… sebelum akhirnya pergi.”

Arsen menatapnya sebentar. “Aku bukan ‘semua orang’.”

Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa membuat Liana terdiam.

Arsen kemudian berkata,

“Aku bisa membayar semua biaya operasi nenekmu. Sekarang juga.”

Kata-kata itu menghantam lebih keras dari hujan.

Liana menatapnya, tidak percaya. “Kenapa… kamu mau melakukan itu?”

Dia menatap Arsen lebih dalam, seolah mencoba mencari celah kebohongan.

“Orang sepertimu… tidak mungkin menolong tanpa alasan,” lanjutnya pelan.

“Benar,” jawab Arsen singkat.

Hening.

“Jadi bilang saja langsung,” kata Liana, sedikit menantang. “Apa yang kamu mau?”

Arsen tidak langsung menjawab. Ia seperti menilai sesuatu, lalu akhirnya berkata pelan,

“Karena aku butuh seseorang untuk menikah denganku.”

Dunia terasa hening.

Liana bahkan tidak yakin dia mendengar dengan benar. “Apa…?”

“Menikah denganku,” ulang Arsen, tetap tenang. “Sebagai imbalannya, aku akan menyelamatkan nenekmu.”

Liana menatapnya lama. Merasa tidak masuk akal seorang pria yang tidak dikenal tiba-tiba ingin menolong dengan bayaran menikah dengannya.

“Ini tidak masuk akal,” gumamnya pelan.

“Tidak,” jawab Arsen. “Ini transaksi. Di dunia ini tidak ada yang gratis.”

Kalimat itu sederhana, tapi menusuk.

Liana menunduk. Pikirannya kacau. Beberapa menit yang lalu, ia siap mengakhiri hidupnya. Sekarang… seseorang menawarkan jalan keluar.

Dengan harga yang tidak kalah besar.

“Kenapa aku?” tanyanya lirih.

Arsen menatapnya tanpa ragu.

“Kamu tidak punya siapa-siapa. Tidak punya pilihan. Dan…”

dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan,

“…kamu cukup berani untuk berdiri di sini.”

Liana tertawa pelan, tapi terdengar lelah.

“Berani?”

dia menggeleng.

“Aku di sini bukan karena berani… tapi karena sudah tidak punya pilihan.”

“Justru itu,” jawab Arsen.

Hujan terus jatuh tanpa henti.

Liana mengepalkan tangannya. Dadanya terasa sesak.

Ini gila.

Menikah dengan orang asing.

Tapi… neneknya.

“…Kalau aku menolak?” suaranya pelan.

Arsen tidak mengalihkan pandangannya.

“Besok, kamu akan tetap berdiri di rumah sakit… tapi tanpa uang.”

Setelah mendengar itu,

Liana menutup matanya sejenak.

Mungkin ini satu-satunya jalan.

Saat ia membuka mata kembali, tatapannya sudah berubah.

“…Baik,” katanya pelan.

Arsen tidak terkejut. Seolah sudah tahu jawabannya.

“Bagus.”

dia mengeluarkan ponselnya, menekan sesuatu, lalu memasukkannya kembali ke saku.

“Beberapa menit lagi, rumah sakit akan menghubungimu.”

Liana menatapnya. Jantungnya berdegup tidak teratur.

“Apa yang kamu lakukan?”

Arsen melangkah mendekat, berhenti tepat di depannya.

“Memastikan kamu tidak bisa mundur.”

Hujan masih turun.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pernikahan Tanpa Cinta: Dimanja Ceo Yang Tak Menginginkanku   11

    Setelah selesai makan, Liana membereskan sisa-sisa di meja. Piring kotor ia susun rapi, lalu satu per satu dibawanya ke dapur. Suara air mengalir pelan mengisi ruangan, Beberapa menit kemudian, semuanya sudah kembali bersih seperti semula. Liana menyeka tangannya dengan handuk kecil, lalu tanpa sadar melirik ke arah ruang kerja. Arsen sudah duduk di sana, menatap layar laptopnya dengan fokus, seolah dunia di sekitarnya tidak ada. Liana terdiam sejenak. Tidak ada yang ingin ia katakan… Tanpa suara, dia mengambil tasnya, menyampirkannya ke bahu, lalu berjalan keluar rumah. Dari dalam, Arsen sempat mengangkat pandangannya. Ia melihat punggung Liana yang menjauh, alisnya sedikit berkerut. Namun hanya sebentar. dia kembali menunduk, menutup file di laptopnya, lalu bersiap berangkat ke kantor. Di halaman rumah, Liana berhenti di samping sepeda listriknya, ia menekan tombol. “Duh… ini kok nggak mau nyala, ya…” gumamnya, keningnya mengernyit. Dia mencoba lagi. Sekali. Dua kali. Te

  • Pernikahan Tanpa Cinta: Dimanja Ceo Yang Tak Menginginkanku   Bab 10

    Keesokan harinya, Liana bangun jam enam pagi seperti biasa.Dulu, dia harus menyiapkan sarapan untuk nenek. Tapi semenjak nenek sakit, dia sudah jarang masak.Saat bangun dari tempat tidur, Liana memandangi kamar yang masih terasa asing di matanya.Dia mengernyit bingung.Beberapa detik kemudian, ingatannya kembali.“…Aku hampir lupa kalau aku sudah menikah.”Liana menghela napas pelan, lalu bangun dari tempat tidur.Perutnya terasa lapar. Ia segera mandi dan berganti pakaian.Setelah itu, dia keluar dari kamar dan melihat ke sekeliling.Rumah masih sepi.Matanya sempat berhenti pada pintu kamar Arsen.“Sepertinya dia belum bangun…” gumamnya pelan.“Aku harus menyiapkan makanan.”Liana turun ke lantai bawah.Namun saat sampai di dapur, dia kembali terdiam.“…Lagi-lagi lupa.”Tidak ada alat masak. Tidak ada bahan makanan.Akhirnya, dia memutuskan keluar untuk membeli makanan di restoran cepat saji di depan kompleks.Beberapa waktu kemudian, Liana kembali dengan beberapa kantong makanan

  • Pernikahan Tanpa Cinta: Dimanja Ceo Yang Tak Menginginkanku   Bab 9

    Setelah selesai makan, Liana mengeluarkan piyama dari koper. Dia kemudian mandi dengan air panas, mencoba menghilangkan lelah yang menumpuk sejak pagi. Beberapa menit kemudian, dia menjatuhkan diri ke tempat tidur… dan tertidur lelap tanpa sempat berpikir apa pun lagi. Di sisi lain, setelah selesai bertemu klien, Arsen berjalan keluar dari gedung kantor. Dia melihat para pengawalnya sudah menunggu. “Aku lupa memberi tahu kalian,” ucapnya sambil merapikan jasnya. “Mulai sekarang aku akan pulang sendiri. Kalian bisa antar-jemput yang lain saja.” Salah satu pengawal tampak ragu. “Tapi, Den—” Arsen langsung menatapnya dingin. “Ikuti saja perintahku.” “…Baik, Den.” Mereka langsung menunduk. Tidak ada yang berani membantah lagi. Kantor sudah sangat sepi saat Arsen menuju parkiran. Dia berjalan ke arah mobil mewah yang biasa ia gunakan untuk bepergian sendiri—mobil yang sengaja ia simpan di kantor. Saat mesin mobil menyala, ia sempat terdiam sejenak. “Aku hampir lupa…” gumamnya p

  • Pernikahan Tanpa Cinta: Dimanja Ceo Yang Tak Menginginkanku   Bab 8

    Telepon berbunyi. Arsen yang sedang sangat sibuk sebenarnya tidak ingin mengangkatnya. Namun, setelah melihat siapa yang menelepon, ia terpaksa menerima panggilan itu. “Halo, Nek. Kenapa menelepon aku? Aku lagi sibuk banget. Nanti saja, kalau nggak ada hal penting.” Suara di seberang terdengar jelas, membuat Arsen sedikit menghela napas. “Mama kamu datang ke rumah. Dia mengadu tentang kamu yang menikah tanpa kabar… dan menikah dengan orang asing.” Arsen menutup matanya sejenak. “Aku sudah bilang, aku tidak suka dijodohkan. Apalagi sama Vanesa itu.” Nada suaranya terdengar dingin, tapi tegas. “Hm… ya sudah. Itu juga salah mama kamu sendiri,” balas suara neneknya. “Tapi nenek mau lihat cucu menantu nenek.” Arsen terdiam beberapa detik. “Nanti saja. Aku lagi banyak kerjaan.” “Jangan lama-lama. Nenek nggak sabar,” jawab neneknya dengan nada ringan. “Iya.” Telepon pun ditutup. Arsen mengusap pelipisnya pelan. “…Mulai ribet,” gumamnya. DIa menyandarkan tubuh di kursinya, me

  • Pernikahan Tanpa Cinta: Dimanja Ceo Yang Tak Menginginkanku   Bab 7

    Sore harinya, ketika Liana dan Mira hendak menutup kafe, Alex datang menghampiri Liana. “Kak Liana!” panggil Alex dari kejauhan. Liana menoleh. Ia melihat Alex mendekat dengan wajah cemberut. Tanpa sadar, tangannya menyentuh pipinya yang masih terasa perih. “Aw…” lirihnya pelan. Alex yang melihat itu langsung mempercepat langkahnya. Dengan rasa khawatir, ia bertanya, “Kak Liana, kamu nggak apa-apa, kan?” Liana mengalihkan pandangan. “Aku nggak apa-apa kok. Sudah… aku mau tutup toko. Jadi jangan ganggu dulu, ya.” “Kak, pipinya masih merah…” Alex menahan diri, tapi tetap khawatir. “Kalau sakit, seharusnya kamu istirahat, bukan kerja.” Liana tersenyum tipis, “Kalau aku istirahat, siapa yang kerja? Kamu?” Alex terdiam. “Udah, Lex. Nada suaranya terdengar datar. Mira yang sudah selesai merapikan meja memanggil dari dalam. “Lin, ayo kita pulang!” “Iya, ayo,” jawab Liana singkat. Ia langsung berjalan pergi, mengabaikan Alex. “Kak Liana—” Alex mencoba me

  • Pernikahan Tanpa Cinta: Dimanja Ceo Yang Tak Menginginkanku   Bab 6

    Memang kejadian hari itu, ibunya sedikit berlebihan terhadap Liana hingga membuatnya merasa malu untuk menemui Kak Liana lagi. Pada siang hari, pintu toko terbuka. Yang datang seorang wanita dengan perhiasan mahal. Ia melihat-lihat sekitar, lalu akhirnya menemukan sosok Liana. Wanita itu langsung menghampiri. Tanpa peringatan— Plak! Plak! Dua tamparan mendarat di wajah Liana. “Beraninya kamu menggoda anak saya, ya! Dasar wanita jalang!” Suasana langsung berubah. Para pelanggan yang tadi santai langsung menoleh. Beberapa bahkan berdiri, penasaran dengan keributan itu. Liana terhuyung sedikit, tangannya refleks memegang pipinya. “Maaf… apa maksud Anda?” suaranya gemetar, tapi ia berusaha tetap tenang. Wanita itu justru semakin emosi. “Masih pura-pura tidak tahu? Kamu pikir aku tidak tahu kamu mendekati anak saya?” Ia langsung menarik rambut Liana dengan kasar. “Apa yang kamu bicarakan? Aku tidak pernah menggoda siapa pun!” Liana berusaha melepaskan diri, tapi cengkeraman

  • Pernikahan Tanpa Cinta: Dimanja Ceo Yang Tak Menginginkanku   Bab 5

    “Dok… bagaimana keadaan nenek saya? Apakah sudah boleh pulang?” Suara Liana terdengar sedikit terburu-buru. Dokter yang baru keluar dari ruangan itu menatapnya sebentar, lalu tersenyum tipis. “Operasinya berjalan lancar,” jawabnya. “Untuk sekarang kondisi pasien stabil, tapi masih perlu pemulihan

  • Pernikahan Tanpa Cinta: Dimanja Ceo Yang Tak Menginginkanku   Bab 4

    “Hahah… kamu memang cocok jadi menantu Tante. Kapan kamu mengejar Arsen? Tante sudah tidak sabar ingin punya menantu.” Tante bisa aja.“Vanesa pasti akan memenuhi harapan Tante Yanti. Tapi aku butuh waktu, ya. Mama sama Papa juga mendukung aku, kok.” Terdengar suara langkah kaki dari luar. Yanti d

  • Pernikahan Tanpa Cinta: Dimanja Ceo Yang Tak Menginginkanku   bab 3

    Pagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Liana berdiri di depan kamar rawat inap, menatap gagang pintu tanpa benar-benar berani masuk. Hari ini… dia akan menikah. Bukan dengan orang yang dia cintai. Bukan dengan seseorang yang dia kenal. Tapi dengan pria yang baru ia temui kemarin… di saat hi

  • Pernikahan Tanpa Cinta: Dimanja Ceo Yang Tak Menginginkanku   Bab 2

    Mobil hitam itu berhenti di depan sebuah kafe yang masih sepi. Hujan sudah mereda, hanya menyisakan jalanan basah dan udara dingin yang menempel di kulit. Liana duduk diam beberapa detik sebelum membuka pintu. Kepalanya masih penuh dengan kejadian di jembatan tadi. Semuanya terasa terlalu cepat unt

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status