Share

Bab 2

Penulis: Xau
last update Tanggal publikasi: 2026-03-11 13:11:18

Mobil hitam itu berhenti di depan sebuah kafe yang masih sepi. Hujan sudah mereda, hanya menyisakan jalanan basah dan udara dingin yang menempel di kulit.

Liana duduk diam beberapa detik sebelum membuka pintu. Kepalanya masih penuh dengan kejadian di jembatan tadi. Semuanya terasa terlalu cepat untuk dicerna.

Arsen sudah lebih dulu keluar. “Masuk.”

Singkat, tanpa basa-basi.

Ia mengikuti masuk ke dalam kafe.

Suasana hangat langsung menyambut. Aroma kopi memenuhi ruangan, kontras dengan dinginnya hujan di luar. Mereka duduk di sudut, cukup jauh dari orang lain.

Seorang pelayan datang, dan Arsen langsung memesan, “Dua kopi.”

Liana tidak sempat menolak.

Beberapa detik hening.

Akhirnya, Liana membuka suara. “Sekarang kamu bisa jelasin?”

Arsen menatapnya sebentar, lalu menyandarkan tubuhnya. “Kamu mau penjelasan yang jujur, atau yang nyaman didengar?”

Liana mengernyit. “Bedanya?”

“Yang jujur biasanya tidak enak.”

“Ya sudah. Yang jujur.”

Arsen mengangguk kecil, seolah itu memang yang ia harapkan.

“aku membutuhkan kamu untuk sementara menjadi istri agar aku tidak dijodohkan.

Liana menatapnya datar. “Kamu pikir aku akan percaya begitu saja?”

“Aku tidak peduli kamu percaya atau tidak,” balas Arsen tenang. “Yang penting, kamu paham posisi kita.”

Pelayan datang meletakkan kopi, lalu pergi.

Arsen melanjutkan, " ibuku menyuruh aku untuk segera menikah, dia sudah mengumumkan perjodohan tapi aku tidak suka wanita seperti ular yg lambat laun akan mematuk tuan nya.

Liana tidak langsung menjawab. Ia menatap Arsen beberapa detik, mencoba membaca sesuatu dari wajah pria itu.

Terlalu tenang. Terlalu rapi.

“Cuma itu?” tanyanya pelan.

Arsen sedikit mengangkat alis. “Menurutmu kurang?”

“Bukan kurang,” Liana menggeleng. “Tapi… terlalu sederhana.”

Dia mencondongkan tubuh sedikit ke depan. “Kamu bisa cari wanita mana pun. Jadi kenapa aku?”

Arsen tidak langsung menjawab.

Ada jeda singkat yang membuat suasana berubah.

“di masa depan kamu pasti akan tau,"

Alis Liana berkerut. “mengapa harus nunggu nanti?”

Arsen meminum kopinya dalam diam.

Liana menghela napas pelan, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Kamu sadar, kan, ini terdengar seperti aku masuk ke sesuatu yang bahkan aku nggak ngerti?”

“Kamu nggak perlu mengerti semuanya sekarang,” balas Arsen.

Jawaban itu sederhana, tapi cukup untuk membuat Liana yakin—ada sesuatu yang sengaja disembunyikan.

Dia menatap Arsen beberapa detik lagi, lalu akhirnya mengalihkan pandangan. “Ya sudah. Aku juga nggak punya banyak pilihan buat nanya lebih jauh.”

Arsen melanjutkan, seolah topik itu memang tidak penting untuk dibahas sekarang.

“Aku sudah melihatmu sebelumnya. Di rumah sakit.”

Jantung Liana berdetak sedikit lebih cepat.

“Beberapa hari terakhir kamu bolak-balik ke sana. Aku tahu kamu mencoba mencari bantuan… dan ditolak.”

Liana menggenggam tangannya di bawah meja.

Jadi… dia memang sudah tahu semuanya.

“Aku butuh seseorang yang tidak akan membawa masalah tambahan,” lanjut Arsen. “Tidak punya koneksi, tidak punya kepentingan lain, dan cukup terdesak untuk tidak bermain-main dengan kesepakatan ini.”

Kalimat itu terdengar dingin. Tapi jujur.

Liana menghela napas pelan. “Jadi aku cuma pilihan paling aman?”

“Pilihan paling efisien.”

Jawaban tanpa emosi.

Anehnya, Liana tidak marah. Ia terlalu lelah untuk itu.

Arsen kemudian mengeluarkan sebuah map tipis dan meletakkannya di meja.

“Kalau kamu masih mau lanjut, baca ini.”

Liana menatap map itu beberapa detik sebelum membukanya.

Di halaman pertama tertulis jelas:

KONTRAK PERNIKAHAN

Tangannya sedikit gemetar saat membaca isi di dalamnya.

Pernikahan selama satu tahun.

Biaya medis neneknya ditanggung penuh.

Ia harus berperan sebagai istri di depan publik.

Tidak ada kewajiban hubungan pribadi.

Dan satu hal yang membuatnya berhenti membaca sejenak—

Ia tidak boleh membocorkan apa pun tentang kontrak pernikahan ini.

Liana menutup map itu perlahan.

“Ini bukan pernikahan,” katanya pelan.

Arsen menatapnya. “Memang bukan.”

Hening sejenak.

“Kalau aku tanda tangan… semua biaya nenekku benar-benar kamu tanggung?”

“Iya.”

Tanpa ragu.

“Dan kamu nggak akan menariknya kembali ?”

“Aku tidak pernah menarik apa yang sudah aku janjikan.”

Jawaban itu tenang, tapi pasti.

Liana menatap kontrak itu lagi.

Di satu sisi, ini terasa salah. Terlalu cepat. Terlalu dingin.

Di sisi lain… ini satu-satunya cara.

Dia tertawa kecil, pahit. “Hidupku aneh banget hari ini.”

Arsen tidak menanggapi.

Liana menarik napas panjang, lalu mengangkat pandangannya.

“Kalau aku setuju… kapan kita menikah?”

“Besok.”

Jawaban itu langsung. Tanpa jeda.

Liana membeku. “Cepat sekali.”

“Aku tidak suka menunda hal yang sudah pasti.”

Masuk akal.

Terlalu masuk akal.

Liana menatap pena di samping kontrak. Tangannya bergerak pelan… lalu berhenti.

“Kalau aku kabur?”

Untuk pertama kalinya, Arsen tersenyum tipis.

“Coba saja.”

Nada suaranya tetap tenang, tapi cukup untuk membuat Liana yakin itu bukan sekadar ucapan.

Beberapa detik berlalu.

Akhirnya, Liana mengambil pena itu.

Dengan satu tarikan napas…

Ia menandatangani namanya.

Arsen langsung menarik kontrak itu kembali dan menutupnya rapi.

“Keputusan yang tepat.”

Liana menatapnya. “Semoga saja.”

Arsen berdiri. “Istirahat. Besok aku jemput.”

Tanpa menunggu jawaban, ia berjalan keluar.

Liana tetap duduk diam.

Dia menatap pintu.

Lalu ke cangkir kopi yang mulai dingin.

Dan akhirnya… ke tangannya sendiri.

Pelan, Dia berbisik—

“…aku benar-benar melakukannya.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pernikahan Tanpa Cinta: Dimanja Ceo Yang Tak Menginginkanku   11

    Setelah selesai makan, Liana membereskan sisa-sisa di meja. Piring kotor ia susun rapi, lalu satu per satu dibawanya ke dapur. Suara air mengalir pelan mengisi ruangan, Beberapa menit kemudian, semuanya sudah kembali bersih seperti semula. Liana menyeka tangannya dengan handuk kecil, lalu tanpa sadar melirik ke arah ruang kerja. Arsen sudah duduk di sana, menatap layar laptopnya dengan fokus, seolah dunia di sekitarnya tidak ada. Liana terdiam sejenak. Tidak ada yang ingin ia katakan… Tanpa suara, dia mengambil tasnya, menyampirkannya ke bahu, lalu berjalan keluar rumah. Dari dalam, Arsen sempat mengangkat pandangannya. Ia melihat punggung Liana yang menjauh, alisnya sedikit berkerut. Namun hanya sebentar. dia kembali menunduk, menutup file di laptopnya, lalu bersiap berangkat ke kantor. Di halaman rumah, Liana berhenti di samping sepeda listriknya, ia menekan tombol. “Duh… ini kok nggak mau nyala, ya…” gumamnya, keningnya mengernyit. Dia mencoba lagi. Sekali. Dua kali. Te

  • Pernikahan Tanpa Cinta: Dimanja Ceo Yang Tak Menginginkanku   Bab 10

    Keesokan harinya, Liana bangun jam enam pagi seperti biasa.Dulu, dia harus menyiapkan sarapan untuk nenek. Tapi semenjak nenek sakit, dia sudah jarang masak.Saat bangun dari tempat tidur, Liana memandangi kamar yang masih terasa asing di matanya.Dia mengernyit bingung.Beberapa detik kemudian, ingatannya kembali.“…Aku hampir lupa kalau aku sudah menikah.”Liana menghela napas pelan, lalu bangun dari tempat tidur.Perutnya terasa lapar. Ia segera mandi dan berganti pakaian.Setelah itu, dia keluar dari kamar dan melihat ke sekeliling.Rumah masih sepi.Matanya sempat berhenti pada pintu kamar Arsen.“Sepertinya dia belum bangun…” gumamnya pelan.“Aku harus menyiapkan makanan.”Liana turun ke lantai bawah.Namun saat sampai di dapur, dia kembali terdiam.“…Lagi-lagi lupa.”Tidak ada alat masak. Tidak ada bahan makanan.Akhirnya, dia memutuskan keluar untuk membeli makanan di restoran cepat saji di depan kompleks.Beberapa waktu kemudian, Liana kembali dengan beberapa kantong makanan

  • Pernikahan Tanpa Cinta: Dimanja Ceo Yang Tak Menginginkanku   Bab 9

    Setelah selesai makan, Liana mengeluarkan piyama dari koper. Dia kemudian mandi dengan air panas, mencoba menghilangkan lelah yang menumpuk sejak pagi. Beberapa menit kemudian, dia menjatuhkan diri ke tempat tidur… dan tertidur lelap tanpa sempat berpikir apa pun lagi. Di sisi lain, setelah selesai bertemu klien, Arsen berjalan keluar dari gedung kantor. Dia melihat para pengawalnya sudah menunggu. “Aku lupa memberi tahu kalian,” ucapnya sambil merapikan jasnya. “Mulai sekarang aku akan pulang sendiri. Kalian bisa antar-jemput yang lain saja.” Salah satu pengawal tampak ragu. “Tapi, Den—” Arsen langsung menatapnya dingin. “Ikuti saja perintahku.” “…Baik, Den.” Mereka langsung menunduk. Tidak ada yang berani membantah lagi. Kantor sudah sangat sepi saat Arsen menuju parkiran. Dia berjalan ke arah mobil mewah yang biasa ia gunakan untuk bepergian sendiri—mobil yang sengaja ia simpan di kantor. Saat mesin mobil menyala, ia sempat terdiam sejenak. “Aku hampir lupa…” gumamnya p

  • Pernikahan Tanpa Cinta: Dimanja Ceo Yang Tak Menginginkanku   Bab 8

    Telepon berbunyi. Arsen yang sedang sangat sibuk sebenarnya tidak ingin mengangkatnya. Namun, setelah melihat siapa yang menelepon, ia terpaksa menerima panggilan itu. “Halo, Nek. Kenapa menelepon aku? Aku lagi sibuk banget. Nanti saja, kalau nggak ada hal penting.” Suara di seberang terdengar jelas, membuat Arsen sedikit menghela napas. “Mama kamu datang ke rumah. Dia mengadu tentang kamu yang menikah tanpa kabar… dan menikah dengan orang asing.” Arsen menutup matanya sejenak. “Aku sudah bilang, aku tidak suka dijodohkan. Apalagi sama Vanesa itu.” Nada suaranya terdengar dingin, tapi tegas. “Hm… ya sudah. Itu juga salah mama kamu sendiri,” balas suara neneknya. “Tapi nenek mau lihat cucu menantu nenek.” Arsen terdiam beberapa detik. “Nanti saja. Aku lagi banyak kerjaan.” “Jangan lama-lama. Nenek nggak sabar,” jawab neneknya dengan nada ringan. “Iya.” Telepon pun ditutup. Arsen mengusap pelipisnya pelan. “…Mulai ribet,” gumamnya. DIa menyandarkan tubuh di kursinya, me

  • Pernikahan Tanpa Cinta: Dimanja Ceo Yang Tak Menginginkanku   Bab 7

    Sore harinya, ketika Liana dan Mira hendak menutup kafe, Alex datang menghampiri Liana. “Kak Liana!” panggil Alex dari kejauhan. Liana menoleh. Ia melihat Alex mendekat dengan wajah cemberut. Tanpa sadar, tangannya menyentuh pipinya yang masih terasa perih. “Aw…” lirihnya pelan. Alex yang melihat itu langsung mempercepat langkahnya. Dengan rasa khawatir, ia bertanya, “Kak Liana, kamu nggak apa-apa, kan?” Liana mengalihkan pandangan. “Aku nggak apa-apa kok. Sudah… aku mau tutup toko. Jadi jangan ganggu dulu, ya.” “Kak, pipinya masih merah…” Alex menahan diri, tapi tetap khawatir. “Kalau sakit, seharusnya kamu istirahat, bukan kerja.” Liana tersenyum tipis, “Kalau aku istirahat, siapa yang kerja? Kamu?” Alex terdiam. “Udah, Lex. Nada suaranya terdengar datar. Mira yang sudah selesai merapikan meja memanggil dari dalam. “Lin, ayo kita pulang!” “Iya, ayo,” jawab Liana singkat. Ia langsung berjalan pergi, mengabaikan Alex. “Kak Liana—” Alex mencoba me

  • Pernikahan Tanpa Cinta: Dimanja Ceo Yang Tak Menginginkanku   Bab 6

    Memang kejadian hari itu, ibunya sedikit berlebihan terhadap Liana hingga membuatnya merasa malu untuk menemui Kak Liana lagi. Pada siang hari, pintu toko terbuka. Yang datang seorang wanita dengan perhiasan mahal. Ia melihat-lihat sekitar, lalu akhirnya menemukan sosok Liana. Wanita itu langsung menghampiri. Tanpa peringatan— Plak! Plak! Dua tamparan mendarat di wajah Liana. “Beraninya kamu menggoda anak saya, ya! Dasar wanita jalang!” Suasana langsung berubah. Para pelanggan yang tadi santai langsung menoleh. Beberapa bahkan berdiri, penasaran dengan keributan itu. Liana terhuyung sedikit, tangannya refleks memegang pipinya. “Maaf… apa maksud Anda?” suaranya gemetar, tapi ia berusaha tetap tenang. Wanita itu justru semakin emosi. “Masih pura-pura tidak tahu? Kamu pikir aku tidak tahu kamu mendekati anak saya?” Ia langsung menarik rambut Liana dengan kasar. “Apa yang kamu bicarakan? Aku tidak pernah menggoda siapa pun!” Liana berusaha melepaskan diri, tapi cengkeraman

  • Pernikahan Tanpa Cinta: Dimanja Ceo Yang Tak Menginginkanku   Bab 5

    “Dok… bagaimana keadaan nenek saya? Apakah sudah boleh pulang?” Suara Liana terdengar sedikit terburu-buru. Dokter yang baru keluar dari ruangan itu menatapnya sebentar, lalu tersenyum tipis. “Operasinya berjalan lancar,” jawabnya. “Untuk sekarang kondisi pasien stabil, tapi masih perlu pemulihan

  • Pernikahan Tanpa Cinta: Dimanja Ceo Yang Tak Menginginkanku   Bab 4

    “Hahah… kamu memang cocok jadi menantu Tante. Kapan kamu mengejar Arsen? Tante sudah tidak sabar ingin punya menantu.” Tante bisa aja.“Vanesa pasti akan memenuhi harapan Tante Yanti. Tapi aku butuh waktu, ya. Mama sama Papa juga mendukung aku, kok.” Terdengar suara langkah kaki dari luar. Yanti d

  • Pernikahan Tanpa Cinta: Dimanja Ceo Yang Tak Menginginkanku   bab 3

    Pagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Liana berdiri di depan kamar rawat inap, menatap gagang pintu tanpa benar-benar berani masuk. Hari ini… dia akan menikah. Bukan dengan orang yang dia cintai. Bukan dengan seseorang yang dia kenal. Tapi dengan pria yang baru ia temui kemarin… di saat hi

  • Pernikahan Tanpa Cinta: Dimanja Ceo Yang Tak Menginginkanku   ‎

    "Kalau kamu lompat sekarang, nenekmu tetap tidak akan selamat.” Suara itu muncul di tengah hujan. Liana membeku. Kakinya sudah berada di ujung jembatan, tubuhnya condong ke depan, tapi kalimat itu seperti menariknya kembali ke dunia nyata. Perlahan, dia menoleh. Seorang pria berdiri beberapa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status