แชร์

bab 3

ผู้เขียน: Xau
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-11 13:33:16

Pagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya.

Liana berdiri di depan kamar rawat inap, menatap gagang pintu tanpa benar-benar berani masuk.

Hari ini… dia akan menikah.

Bukan dengan orang yang dia cintai.

Bukan dengan seseorang yang dia kenal.

Tapi dengan pria yang baru ia temui kemarin… di saat hidupnya hampir berakhir.

Tangannya perlahan mengepal.

Dia mendorong pintu.

Ruangan itu tenang.

Neneknya masih terbaring di ranjang, wajahnya pucat, tapi napasnya stabil. Tidak seperti kemarin, tidak seperti saat Liana hampir kehilangan segalanya.

Langkahnya pelan saat mendekat.

Dia duduk di samping ranjang, menggenggam tangan yang sudah mulai dingin itu.

“Nek…”

Suaranya hampir tidak terdengar.

“Aku… mungkin bakal melakukan sesuatu yang aneh hari ini.”

Dia tersenyum kecil, tapi matanya mulai panas.

“Kalau nanti nenek bangun… jangan marah, ya.”

Hanya suara alat medis yang berdetak pelan, seolah menjadi satu-satunya saksi keputusan yang ia ambil.

Dia perlahan berdiri. Kalau dia terlalu lama di sini… dia mungkin akan berubah pikiran. Duh, dasar bodohnya aku, ya sudahlah, semuanya sudah terjadi.

Satu jam kemudian, Liana turun dari taksi di depan pintu Kantor Urusan Agama.

Begitu turun dari mobil, ia melihat sekeliling dengan wajah cemberut. Dia a melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 08.00.

“Udah minta janjian, malah dia yang telat…” gumamnya pelan.

Sekitar lima menit kemudian, suara mobil berhenti membuatnya menoleh.

Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depannya.

Arsen turun dari mobil dengan langkah tenang, seperti biasa.

Liana menatapnya beberapa detik.

Entah kenapa… itu membuatnya sedikit kesal.

“Kamu lama,” gumamnya pelan.

“Aku tepat waktu,” jawab Arsen singkat.

“Ya… ya, sipaling tepat waktu.”

Arsen menghiraukan ucapan Liana. Ia langsung saja masuk ke dalam.

Melihat ucapannya tidak dibalas, Liana terlihat pasrah pada takdir. dia pun mengikuti pria itu masuk ke dalam Kantor Urusan Agama.

Pria itu mengeluarkan kartu identitas dan meletakkannya di depan staf Kantor Urusan Agama.

Liana juga melakukan hal yang sama.

Keduanya dengan cepat menyelesaikan proses pembuatan buku nikah, yang memakan waktu kurang dari 10 menit.

Setelah menerima buku nikah dari staf, Arsen mengeluarkan satu set kunci dari kantong bajunya, lalu menyerahkannya kepada Liana.

“Rumah yang aku beli ada di kompleks Averon Residence.”

“Aku tahu kamu tinggal di rumah nenek kamu. Karena kita sudah menikah, kamu harus tinggal di rumah itu.”

“Tapi—”

“Tidak ada kata tapi.”

Liana terdiam sejenak, lalu menghela napas pelan.

“…Baik.”

Dia merasa setiap yang dia ucapkan harus selalu dipatuhi. Ia hanya bisa bersabar di dalam hati.

“Kita saling simpan nomor W******p, ya, supaya lebih gampang buat kontak.”

Arsen mengangguk singkat.

“Setelah ini pergi ke mana? Apa aku bisa pulang?”

“Kamu ikut aku sekarang juga.”

“Ke mana?”

“Ikut saja dulu.”

Mobil perlahan melaju di jalanan.

Sepanjang perjalanan, Liana hanya diam, sesekali melirik ke luar jendela.

Dia melihat deretan bangunan kota yang perlahan berubah menjadi kawasan yang lebih sepi dan tertata.

Sekitar setengah jam kemudian, mobil berhenti di depan sebuah kompleks perumahan.

Gerbang tinggi menjulang dengan penjagaan ketat.

Satpam membuka gerbang setelah melihat mobil Arsen.

Mobil masuk tanpa hambatan.

Liana menatap ke luar dengan sedikit terkejut.

Rumah-rumah besar berjajar rapi, taman terawat, dan suasana yang jauh dari keramaian kota.

“Tempat apa ini?” tanyanya pelan.

“Vila Ferda ,” jawab Arsen singkat.

Mobil terus melaju hingga akhirnya berhenti di depan sebuah rumah besar.

Arsen perlahan turun dari mobil, diikuti Liana.

“Ini di mana?” tanya Liana.

“Ikut aku ke dalam.”

Liana ragu sejenak, tapi tetap mengikuti langkah Arsen.

Setelah berjalan beberapa saat, terdengar tawa dari dalam ruangan.

Liana langsung menoleh ke arah suara itu.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pernikahan Tanpa Cinta: Dimanja Ceo Yang Tak Menginginkanku   11

    Setelah selesai makan, Liana membereskan sisa-sisa di meja. Piring kotor ia susun rapi, lalu satu per satu dibawanya ke dapur. Suara air mengalir pelan mengisi ruangan, Beberapa menit kemudian, semuanya sudah kembali bersih seperti semula. Liana menyeka tangannya dengan handuk kecil, lalu tanpa sadar melirik ke arah ruang kerja. Arsen sudah duduk di sana, menatap layar laptopnya dengan fokus, seolah dunia di sekitarnya tidak ada. Liana terdiam sejenak. Tidak ada yang ingin ia katakan… Tanpa suara, dia mengambil tasnya, menyampirkannya ke bahu, lalu berjalan keluar rumah. Dari dalam, Arsen sempat mengangkat pandangannya. Ia melihat punggung Liana yang menjauh, alisnya sedikit berkerut. Namun hanya sebentar. dia kembali menunduk, menutup file di laptopnya, lalu bersiap berangkat ke kantor. Di halaman rumah, Liana berhenti di samping sepeda listriknya, ia menekan tombol. “Duh… ini kok nggak mau nyala, ya…” gumamnya, keningnya mengernyit. Dia mencoba lagi. Sekali. Dua kali. Te

  • Pernikahan Tanpa Cinta: Dimanja Ceo Yang Tak Menginginkanku   Bab 10

    Keesokan harinya, Liana bangun jam enam pagi seperti biasa.Dulu, dia harus menyiapkan sarapan untuk nenek. Tapi semenjak nenek sakit, dia sudah jarang masak.Saat bangun dari tempat tidur, Liana memandangi kamar yang masih terasa asing di matanya.Dia mengernyit bingung.Beberapa detik kemudian, ingatannya kembali.“…Aku hampir lupa kalau aku sudah menikah.”Liana menghela napas pelan, lalu bangun dari tempat tidur.Perutnya terasa lapar. Ia segera mandi dan berganti pakaian.Setelah itu, dia keluar dari kamar dan melihat ke sekeliling.Rumah masih sepi.Matanya sempat berhenti pada pintu kamar Arsen.“Sepertinya dia belum bangun…” gumamnya pelan.“Aku harus menyiapkan makanan.”Liana turun ke lantai bawah.Namun saat sampai di dapur, dia kembali terdiam.“…Lagi-lagi lupa.”Tidak ada alat masak. Tidak ada bahan makanan.Akhirnya, dia memutuskan keluar untuk membeli makanan di restoran cepat saji di depan kompleks.Beberapa waktu kemudian, Liana kembali dengan beberapa kantong makanan

  • Pernikahan Tanpa Cinta: Dimanja Ceo Yang Tak Menginginkanku   Bab 9

    Setelah selesai makan, Liana mengeluarkan piyama dari koper. Dia kemudian mandi dengan air panas, mencoba menghilangkan lelah yang menumpuk sejak pagi. Beberapa menit kemudian, dia menjatuhkan diri ke tempat tidur… dan tertidur lelap tanpa sempat berpikir apa pun lagi. Di sisi lain, setelah selesai bertemu klien, Arsen berjalan keluar dari gedung kantor. Dia melihat para pengawalnya sudah menunggu. “Aku lupa memberi tahu kalian,” ucapnya sambil merapikan jasnya. “Mulai sekarang aku akan pulang sendiri. Kalian bisa antar-jemput yang lain saja.” Salah satu pengawal tampak ragu. “Tapi, Den—” Arsen langsung menatapnya dingin. “Ikuti saja perintahku.” “…Baik, Den.” Mereka langsung menunduk. Tidak ada yang berani membantah lagi. Kantor sudah sangat sepi saat Arsen menuju parkiran. Dia berjalan ke arah mobil mewah yang biasa ia gunakan untuk bepergian sendiri—mobil yang sengaja ia simpan di kantor. Saat mesin mobil menyala, ia sempat terdiam sejenak. “Aku hampir lupa…” gumamnya p

  • Pernikahan Tanpa Cinta: Dimanja Ceo Yang Tak Menginginkanku   Bab 8

    Telepon berbunyi. Arsen yang sedang sangat sibuk sebenarnya tidak ingin mengangkatnya. Namun, setelah melihat siapa yang menelepon, ia terpaksa menerima panggilan itu. “Halo, Nek. Kenapa menelepon aku? Aku lagi sibuk banget. Nanti saja, kalau nggak ada hal penting.” Suara di seberang terdengar jelas, membuat Arsen sedikit menghela napas. “Mama kamu datang ke rumah. Dia mengadu tentang kamu yang menikah tanpa kabar… dan menikah dengan orang asing.” Arsen menutup matanya sejenak. “Aku sudah bilang, aku tidak suka dijodohkan. Apalagi sama Vanesa itu.” Nada suaranya terdengar dingin, tapi tegas. “Hm… ya sudah. Itu juga salah mama kamu sendiri,” balas suara neneknya. “Tapi nenek mau lihat cucu menantu nenek.” Arsen terdiam beberapa detik. “Nanti saja. Aku lagi banyak kerjaan.” “Jangan lama-lama. Nenek nggak sabar,” jawab neneknya dengan nada ringan. “Iya.” Telepon pun ditutup. Arsen mengusap pelipisnya pelan. “…Mulai ribet,” gumamnya. DIa menyandarkan tubuh di kursinya, me

  • Pernikahan Tanpa Cinta: Dimanja Ceo Yang Tak Menginginkanku   Bab 7

    Sore harinya, ketika Liana dan Mira hendak menutup kafe, Alex datang menghampiri Liana. “Kak Liana!” panggil Alex dari kejauhan. Liana menoleh. Ia melihat Alex mendekat dengan wajah cemberut. Tanpa sadar, tangannya menyentuh pipinya yang masih terasa perih. “Aw…” lirihnya pelan. Alex yang melihat itu langsung mempercepat langkahnya. Dengan rasa khawatir, ia bertanya, “Kak Liana, kamu nggak apa-apa, kan?” Liana mengalihkan pandangan. “Aku nggak apa-apa kok. Sudah… aku mau tutup toko. Jadi jangan ganggu dulu, ya.” “Kak, pipinya masih merah…” Alex menahan diri, tapi tetap khawatir. “Kalau sakit, seharusnya kamu istirahat, bukan kerja.” Liana tersenyum tipis, “Kalau aku istirahat, siapa yang kerja? Kamu?” Alex terdiam. “Udah, Lex. Nada suaranya terdengar datar. Mira yang sudah selesai merapikan meja memanggil dari dalam. “Lin, ayo kita pulang!” “Iya, ayo,” jawab Liana singkat. Ia langsung berjalan pergi, mengabaikan Alex. “Kak Liana—” Alex mencoba me

  • Pernikahan Tanpa Cinta: Dimanja Ceo Yang Tak Menginginkanku   Bab 6

    Memang kejadian hari itu, ibunya sedikit berlebihan terhadap Liana hingga membuatnya merasa malu untuk menemui Kak Liana lagi. Pada siang hari, pintu toko terbuka. Yang datang seorang wanita dengan perhiasan mahal. Ia melihat-lihat sekitar, lalu akhirnya menemukan sosok Liana. Wanita itu langsung menghampiri. Tanpa peringatan— Plak! Plak! Dua tamparan mendarat di wajah Liana. “Beraninya kamu menggoda anak saya, ya! Dasar wanita jalang!” Suasana langsung berubah. Para pelanggan yang tadi santai langsung menoleh. Beberapa bahkan berdiri, penasaran dengan keributan itu. Liana terhuyung sedikit, tangannya refleks memegang pipinya. “Maaf… apa maksud Anda?” suaranya gemetar, tapi ia berusaha tetap tenang. Wanita itu justru semakin emosi. “Masih pura-pura tidak tahu? Kamu pikir aku tidak tahu kamu mendekati anak saya?” Ia langsung menarik rambut Liana dengan kasar. “Apa yang kamu bicarakan? Aku tidak pernah menggoda siapa pun!” Liana berusaha melepaskan diri, tapi cengkeraman

  • Pernikahan Tanpa Cinta: Dimanja Ceo Yang Tak Menginginkanku   Bab 5

    “Dok… bagaimana keadaan nenek saya? Apakah sudah boleh pulang?” Suara Liana terdengar sedikit terburu-buru. Dokter yang baru keluar dari ruangan itu menatapnya sebentar, lalu tersenyum tipis. “Operasinya berjalan lancar,” jawabnya. “Untuk sekarang kondisi pasien stabil, tapi masih perlu pemulihan

  • Pernikahan Tanpa Cinta: Dimanja Ceo Yang Tak Menginginkanku   Bab 4

    “Hahah… kamu memang cocok jadi menantu Tante. Kapan kamu mengejar Arsen? Tante sudah tidak sabar ingin punya menantu.” Tante bisa aja.“Vanesa pasti akan memenuhi harapan Tante Yanti. Tapi aku butuh waktu, ya. Mama sama Papa juga mendukung aku, kok.” Terdengar suara langkah kaki dari luar. Yanti d

  • Pernikahan Tanpa Cinta: Dimanja Ceo Yang Tak Menginginkanku   Bab 2

    Mobil hitam itu berhenti di depan sebuah kafe yang masih sepi. Hujan sudah mereda, hanya menyisakan jalanan basah dan udara dingin yang menempel di kulit. Liana duduk diam beberapa detik sebelum membuka pintu. Kepalanya masih penuh dengan kejadian di jembatan tadi. Semuanya terasa terlalu cepat unt

  • Pernikahan Tanpa Cinta: Dimanja Ceo Yang Tak Menginginkanku   ‎

    "Kalau kamu lompat sekarang, nenekmu tetap tidak akan selamat.” Suara itu muncul di tengah hujan. Liana membeku. Kakinya sudah berada di ujung jembatan, tubuhnya condong ke depan, tapi kalimat itu seperti menariknya kembali ke dunia nyata. Perlahan, dia menoleh. Seorang pria berdiri beberapa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status