Masuk“Hahah… kamu memang cocok jadi menantu Tante. Kapan kamu mengejar Arsen? Tante sudah tidak sabar ingin punya menantu.”
Tante bisa aja.“Vanesa pasti akan memenuhi harapan Tante Yanti. Tapi aku butuh waktu, ya. Mama sama Papa juga mendukung aku, kok.” Terdengar suara langkah kaki dari luar. Yanti dan Vanesa seketika menoleh. Mereka melihat Arsen mendekat. Vanesa bangkit dan segera menghampiri Arsen. Namun tiba-tiba, tatapannya membeku saat melihat seorang wanita di belakang Arsen. Vanesa yang tadi tersenyum manis, langsung menghentikan langkahnya. “Kak Arsen… yang di belakang kamu siapa?” Arsen berhenti. DIa tidak langsung menjawab. Perlahan, ia menoleh ke belakang—ke arah Liana yang berdiri beberapa langkah darinya, tampak ragu untuk maju. “Dia istriku.” Kalimat itu jatuh begitu saja. Ringan. Tanpa beban. Tapi efeknya… Seperti menjatuhkan sesuatu ke dalam air tenang. “Cling—” Cangkir teh di tangan Yanti terlepas. Cairan hangat tumpah ke meja, tapi tidak ada yang peduli. “Apa… apa yang kamu bilang?” suara Yanti naik, wajahnya langsung berubah. Arsen tidak terlihat terganggu. “Istriku,” ulangnya singkat. Yanti berdiri mendadak. “Istri?” Tatapannya langsung beralih ke Liana—dari ujung kepala sampai kaki, tanpa berusaha menyembunyikan penilaiannya. “Kamu bercanda, Arsen?” Yanti menatap Liana tanpa berkedip. Tatapan itu tajam. Menilai. Dan jelas… tidak suka. “Arsen,” suaranya turun, tapi justru lebih menekan, “kamu pikir ini lelucon?” “Tidak,” jawab Arsen tenang. “Lalu ini apa?” Yanti menunjuk ke arah Liana tanpa menahan diri. “Kamu tiba-tiba bawa perempuan asing dan bilang itu istrimu?” Ruangan kembali hening. Liana berdiri kaku. Tangannya menggenggam tasnya lebih erat. DIa bisa merasakan tatapan itu—seperti ditelanjangi tanpa ampun. “Kamu… bagaimana bisa menikah dengan perempuan udik seperti ini? Apakah kamu tidak bisa lihat Vanesa mencintaimu? Dia benar-benar tidak bisa dibandingkan dengan Vanesa, dari segi status maupun materi!” Arsen tidak menjawab. Dia langsung berbalik dan berjalan keluar. Liana hanya bisa mengikuti pria itu. “Arsen! Kembali ke sini sekarang!” “Duduk dulu, Tante…” Vanesa menahan Yanti. Tubuh Yanti terlihat bergetar hebat karena amarah. “Tenangkan diri dulu, Tante. Aku pasti akan mencari tahu siapa perempuan yang dibawa Arsen tadi.” Setelah sampai di luar, Arsen langsung masuk ke dalam mobil, diikuti Liana. Liana menatap keluar jendela, lalu perlahan berbicara, “Wanita tadi… dia yang dijodohkan oleh mamamu, ya?” Ia menggenggam tangannya pelan. “Dan… mamamu benar-benar tidak suka denganku.” Liana terdiam. “Kamu tidak perlu memikirkan itu. Cukup jalankan apa yang ada di kontrak.” Setelah itu, mobil perlahan melaju pergi. Dua puluh menit kemudian. “Kamu turun di sini. Aku banyak pekerjaan yang harus diurus.” Liana yang mendengar itu langsung turun. Begitu ia keluar, mobil Arsen langsung melaju pergi. “Hah… aku benar-benar diturunkan di pinggir jalan?” Dia mendengus kesal. “Aku sumpahin dia… kalau ban mobilnya kempes di jalan, nggak ada yang nolongin!” “Hachuuh!” Liana langsung terdiam. “Aneh… kok bisa bersin tiba-tiba…” Di sisi lain, Arsen yang sedang menyetir sedikit mengernyit. Entah kenapa, Dia merasa seperti ada yang sedang membicarakannya. Liana kemudian memberhentikan taksi dan meminta diantarkan ke rumah sakit. Liana turun dari taksi dan langsung masuk untuk melihat keadaan nenek. Sesampainya di depan pintu ruangan, ia melihat dokter sedang memeriksa kondisi neneknya. Dia berhenti sejenak di luar, menunggu dengan gelisah. Beberapa saat kemudian, dokter itu keluar. Liana langsung mendekat. “Dok… bagaimana keadaan nenek saya? Apakah sudah boleh pulang?”Setelah selesai makan, Liana membereskan sisa-sisa di meja. Piring kotor ia susun rapi, lalu satu per satu dibawanya ke dapur. Suara air mengalir pelan mengisi ruangan, Beberapa menit kemudian, semuanya sudah kembali bersih seperti semula. Liana menyeka tangannya dengan handuk kecil, lalu tanpa sadar melirik ke arah ruang kerja. Arsen sudah duduk di sana, menatap layar laptopnya dengan fokus, seolah dunia di sekitarnya tidak ada. Liana terdiam sejenak. Tidak ada yang ingin ia katakan… Tanpa suara, dia mengambil tasnya, menyampirkannya ke bahu, lalu berjalan keluar rumah. Dari dalam, Arsen sempat mengangkat pandangannya. Ia melihat punggung Liana yang menjauh, alisnya sedikit berkerut. Namun hanya sebentar. dia kembali menunduk, menutup file di laptopnya, lalu bersiap berangkat ke kantor. Di halaman rumah, Liana berhenti di samping sepeda listriknya, ia menekan tombol. “Duh… ini kok nggak mau nyala, ya…” gumamnya, keningnya mengernyit. Dia mencoba lagi. Sekali. Dua kali. Te
Keesokan harinya, Liana bangun jam enam pagi seperti biasa.Dulu, dia harus menyiapkan sarapan untuk nenek. Tapi semenjak nenek sakit, dia sudah jarang masak.Saat bangun dari tempat tidur, Liana memandangi kamar yang masih terasa asing di matanya.Dia mengernyit bingung.Beberapa detik kemudian, ingatannya kembali.“…Aku hampir lupa kalau aku sudah menikah.”Liana menghela napas pelan, lalu bangun dari tempat tidur.Perutnya terasa lapar. Ia segera mandi dan berganti pakaian.Setelah itu, dia keluar dari kamar dan melihat ke sekeliling.Rumah masih sepi.Matanya sempat berhenti pada pintu kamar Arsen.“Sepertinya dia belum bangun…” gumamnya pelan.“Aku harus menyiapkan makanan.”Liana turun ke lantai bawah.Namun saat sampai di dapur, dia kembali terdiam.“…Lagi-lagi lupa.”Tidak ada alat masak. Tidak ada bahan makanan.Akhirnya, dia memutuskan keluar untuk membeli makanan di restoran cepat saji di depan kompleks.Beberapa waktu kemudian, Liana kembali dengan beberapa kantong makanan
Setelah selesai makan, Liana mengeluarkan piyama dari koper. Dia kemudian mandi dengan air panas, mencoba menghilangkan lelah yang menumpuk sejak pagi. Beberapa menit kemudian, dia menjatuhkan diri ke tempat tidur… dan tertidur lelap tanpa sempat berpikir apa pun lagi. Di sisi lain, setelah selesai bertemu klien, Arsen berjalan keluar dari gedung kantor. Dia melihat para pengawalnya sudah menunggu. “Aku lupa memberi tahu kalian,” ucapnya sambil merapikan jasnya. “Mulai sekarang aku akan pulang sendiri. Kalian bisa antar-jemput yang lain saja.” Salah satu pengawal tampak ragu. “Tapi, Den—” Arsen langsung menatapnya dingin. “Ikuti saja perintahku.” “…Baik, Den.” Mereka langsung menunduk. Tidak ada yang berani membantah lagi. Kantor sudah sangat sepi saat Arsen menuju parkiran. Dia berjalan ke arah mobil mewah yang biasa ia gunakan untuk bepergian sendiri—mobil yang sengaja ia simpan di kantor. Saat mesin mobil menyala, ia sempat terdiam sejenak. “Aku hampir lupa…” gumamnya p
Telepon berbunyi. Arsen yang sedang sangat sibuk sebenarnya tidak ingin mengangkatnya. Namun, setelah melihat siapa yang menelepon, ia terpaksa menerima panggilan itu. “Halo, Nek. Kenapa menelepon aku? Aku lagi sibuk banget. Nanti saja, kalau nggak ada hal penting.” Suara di seberang terdengar jelas, membuat Arsen sedikit menghela napas. “Mama kamu datang ke rumah. Dia mengadu tentang kamu yang menikah tanpa kabar… dan menikah dengan orang asing.” Arsen menutup matanya sejenak. “Aku sudah bilang, aku tidak suka dijodohkan. Apalagi sama Vanesa itu.” Nada suaranya terdengar dingin, tapi tegas. “Hm… ya sudah. Itu juga salah mama kamu sendiri,” balas suara neneknya. “Tapi nenek mau lihat cucu menantu nenek.” Arsen terdiam beberapa detik. “Nanti saja. Aku lagi banyak kerjaan.” “Jangan lama-lama. Nenek nggak sabar,” jawab neneknya dengan nada ringan. “Iya.” Telepon pun ditutup. Arsen mengusap pelipisnya pelan. “…Mulai ribet,” gumamnya. DIa menyandarkan tubuh di kursinya, me
Sore harinya, ketika Liana dan Mira hendak menutup kafe, Alex datang menghampiri Liana. “Kak Liana!” panggil Alex dari kejauhan. Liana menoleh. Ia melihat Alex mendekat dengan wajah cemberut. Tanpa sadar, tangannya menyentuh pipinya yang masih terasa perih. “Aw…” lirihnya pelan. Alex yang melihat itu langsung mempercepat langkahnya. Dengan rasa khawatir, ia bertanya, “Kak Liana, kamu nggak apa-apa, kan?” Liana mengalihkan pandangan. “Aku nggak apa-apa kok. Sudah… aku mau tutup toko. Jadi jangan ganggu dulu, ya.” “Kak, pipinya masih merah…” Alex menahan diri, tapi tetap khawatir. “Kalau sakit, seharusnya kamu istirahat, bukan kerja.” Liana tersenyum tipis, “Kalau aku istirahat, siapa yang kerja? Kamu?” Alex terdiam. “Udah, Lex. Nada suaranya terdengar datar. Mira yang sudah selesai merapikan meja memanggil dari dalam. “Lin, ayo kita pulang!” “Iya, ayo,” jawab Liana singkat. Ia langsung berjalan pergi, mengabaikan Alex. “Kak Liana—” Alex mencoba me
Memang kejadian hari itu, ibunya sedikit berlebihan terhadap Liana hingga membuatnya merasa malu untuk menemui Kak Liana lagi. Pada siang hari, pintu toko terbuka. Yang datang seorang wanita dengan perhiasan mahal. Ia melihat-lihat sekitar, lalu akhirnya menemukan sosok Liana. Wanita itu langsung menghampiri. Tanpa peringatan— Plak! Plak! Dua tamparan mendarat di wajah Liana. “Beraninya kamu menggoda anak saya, ya! Dasar wanita jalang!” Suasana langsung berubah. Para pelanggan yang tadi santai langsung menoleh. Beberapa bahkan berdiri, penasaran dengan keributan itu. Liana terhuyung sedikit, tangannya refleks memegang pipinya. “Maaf… apa maksud Anda?” suaranya gemetar, tapi ia berusaha tetap tenang. Wanita itu justru semakin emosi. “Masih pura-pura tidak tahu? Kamu pikir aku tidak tahu kamu mendekati anak saya?” Ia langsung menarik rambut Liana dengan kasar. “Apa yang kamu bicarakan? Aku tidak pernah menggoda siapa pun!” Liana berusaha melepaskan diri, tapi cengkeraman
“Dok… bagaimana keadaan nenek saya? Apakah sudah boleh pulang?” Suara Liana terdengar sedikit terburu-buru. Dokter yang baru keluar dari ruangan itu menatapnya sebentar, lalu tersenyum tipis. “Operasinya berjalan lancar,” jawabnya. “Untuk sekarang kondisi pasien stabil, tapi masih perlu pemulihan
Pagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Liana berdiri di depan kamar rawat inap, menatap gagang pintu tanpa benar-benar berani masuk. Hari ini… dia akan menikah. Bukan dengan orang yang dia cintai. Bukan dengan seseorang yang dia kenal. Tapi dengan pria yang baru ia temui kemarin… di saat hi
Mobil hitam itu berhenti di depan sebuah kafe yang masih sepi. Hujan sudah mereda, hanya menyisakan jalanan basah dan udara dingin yang menempel di kulit. Liana duduk diam beberapa detik sebelum membuka pintu. Kepalanya masih penuh dengan kejadian di jembatan tadi. Semuanya terasa terlalu cepat unt
"Kalau kamu lompat sekarang, nenekmu tetap tidak akan selamat.” Suara itu muncul di tengah hujan. Liana membeku. Kakinya sudah berada di ujung jembatan, tubuhnya condong ke depan, tapi kalimat itu seperti menariknya kembali ke dunia nyata. Perlahan, dia menoleh. Seorang pria berdiri beberapa







