Kai tidak langsung menjawab. Ia menyesap kopinya sekali lagi, lalu meletakkan cangkir dengan pelan. “Kita bicarakan lagi nanti,” katanya akhirnya. Suaranya datar tapi tidak menolak mentah-mentah. “Sekarang habiskan sarapanmu. Kita berangkat ke kantor.” Yuna hanya mengangguk kecil dan tidak memaksa lebih lanjut. Di dalam hatinya, ia tahu negosiasi ini belum selesai. Tapi setidaknya, pagi ini ia sudah berani menyuarakan keinginannya—meski dengan nada yang paling sopan dan mengalah yang ia bisa. Dan entah kenapa, meski Kai belum memberikan jawaban pasti, perasaan Yuna sedikit lebih ringan. Karena untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia tidak langsung menyerah tanpa bicara. Beberapa saat kemudian setelah sarapan di penthouse, kini ia berada di perjalanan menuju firma hukum. Yuna menyetir mobil menggunakan sedan murahnya. Jalanan pagi masih cukup lengang, tapi pikirannya sudah penuh. Ia memegang setir dengan satu tangan, sementara tangan satunya sesekali menyentuh pipi yang masih s
Magbasa pa