Yuna langsung tersentak. Matanya melebar sesaat dan tangannya yang memegang setir sedikit menegang.Ah, Dwina. Ibu dari Darren sekarang menghubunginya di saat seperti ini. Tapi … ada apa?“Ibu Darren?” ulang Yuna pelan dengan suara campur antara terkejut dan canggung. “Iya … saya ingat, Tante. Maaf, tadi saya tidak langsung kenal suaranya.”Dwina tertawa lagi yang kali ini lebih ringan.“Tidak apa-apa, Yuna. Tante cuma khawatir saja. Kamu nggak ada ngabarin Darren atau Dara sejak makan malam terakhir.”Yuna tertawa kecil, meski masih diliputi oleh perasaan canggung selagi masih fokus pada jalanan di depan.“Maaf, Tante,” ucap Yuna pelan dengan suara tulus. “Belakangan ini saya agak kewalahan. Pulang balik rumah sakit, terus kerjaan di kantor juga numpuk. Jadi … saya lupa kasih kabar.”“Oh, tidak apa-apa, Yuna,” jawab Dwina lembut. “Ibu kamu gimana keadaannya, Yuna? Tante nunggu kabar dari kamu langsung. Kok diam-diaman b
Magbasa pa