Firas tampak membeku di hadapan Yuna. Rahangnya mengencang tipis, dan Yuna juga menyadari perubahan ekspresi Firas yang kini terlihat tak percaya seolah pria itu salah mendengar perkataannya barusan. “Yuna …” suaranya pelan, hampir seperti bisikan yang hati-hati. “Maksud kamu apa?” Yuna menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering, hingga suaranya nyaris tidak keluar. “Saya … nggak punya pilihan, Firas,” bisiknya pelan. “Semua biaya operasi, perawatan Ibu … semuanya dia yang tanggung.” Firas mengerutkan dahi dengan napasnya yang mulai memburu. “Yuna, bantuan biaya bukan hal yang aneh,” katanya dengan napas sedikit berat. “Tapi bukan berarti kamu harus … mengorbankan diri kamu seperti ini.” Yuna menggeleng cepat. Matanya mulai berkaca-kaca. Pikirannya sudah buntu sejak ia sudah terlanjur jujur pada Firas. “Ini bukan bantuan biasa,” ucapnya lirih. “Ada perjanjian, ada syarat, dan … saya sudah terlanjur terikat terlalu dalam.” Firas menatapnya tajam sekarang. Campuran marah dan kha
Read More