Yuna terkejut hingga jantungnya berdegup kencang. Campuran gugup, senang, dan ragu langsung menyeruak di dadanya. Ajakan makan malam dari Firas terasa begitu tiba-tiba. Yuna menarik napas pelan sebelum akhirnya tersenyum kecil, mencoba menolak dengan cara yang sehalus mungkin. “Maaf, Dokter … sepertinya saya nggak bisa,” ucapnya pelan. “Mobil saya kan masih di parkiran, dan saya juga harus segera pulang. Takut kemalaman.” “Tenang, restorannya dekat kok. Cuma jalan kaki sekitar 10 menit dari sini,” ujar Firas menenangkan. Yuna terdiam beberapa saat. Ia memang tidak punya tempat lain untuk pergi. Dan entah kenapa, kembali ke penthouse sekarang terasa seperti pilihan terakhir yang ingin ia hindari selama Kai masih bersama tamu wanitanya. Yuna menghela napas pelan sebelum akhirnya mengangguk kecil. “Baiklah … saya mau, Dokter.” Firas tersenyum kecil dan mengangguk. “Oke.” Mereka berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang mulai sepi. Firas sempat mampir ke ruangannya sebentar unt
Magbasa pa