Yuna langsung membeku. Pipinya terasa panas dalam sekejap. Ia tidak menyangka Darren akan langsung mengatakan hal itu di depan adiknya. Dan disaat sama pula, pikiran Yuna berputar liar. Untung Kai tidak tahu kalau ia sekarang berada disini. Bahkan kalau Kai mendengar ucapan Darren barusan … entah apa yang akan terjadi nanti. Ia tak mau membayangkannya! “Ma–makasih, Darren,” jawab Yuna gugup. Suaranya nyaris hilang. Dara di sampingnya hanya tersenyum lebar sambil menggigit bibir menahan tawa, seolah sudah menduga reaksi kakaknya. Darren tampak sedikit kikuk. Ia mengusap tengkuknya singkat sebelum akhirnya menggeser tubuhnya memberi jalan. “Silakan masuk, Yuna,” ucapnya pelan, sedikit lebih lembut dari biasanya. “Anggap saja seperti rumah sendiri.” Begitu Yuna dan Dara melangkah masuk, Darren langsung mengulurkan tangannya ke arah Yuna. Yuna ragu sebentar, tapi akhirnya meletakkan tangannya di telapak tangan Darren. Pria itu menariknya pelan mendekat sambil berbisik di de
Magbasa pa