Yuna membeku saat membaca pesan singkat dari Kai. Jantungnya berdebar tak menentu, sementara emosinya bergolak tanpa arah. Tanpa sadar, jemarinya mencengkeram ponsel itu semakin erat hingga buku-buku jarinya memutih. “Brengsek,” gumamnya mengumpat pelan sebelum ia melempar ponselnya ke kursi penumpang. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menginjak pedal gas dan membawa mobilnya melesat keluar dari rumah sakit. Dalam perjalanan ke Penthouse, pikirannya berputar liar oleh rentetan kejadian hari ini hingga dadanya sesak. Lantaran belum kelar satu masalah, masalah lain muncul lagi. Ia benar-benar tak tahu harus bagaimana agar keluar dari pusaran konflik yang menjeratnya. Ia hanyalah tokoh antagonis, tapi entah sejak kapan, ia justru semakin terseret ke pusat konflik yang semakin menelannya. Beberapa saat kemudian, Yuna akhirnya sampai di basement gedung apartemen. Ia mematikan mesin dan langsung keluar dari mobilnya sebelum berjalan dengan gontai menuju lift. Lift bergerak naik
Read more