Malam itu, setelah kepergian Aster, suasana di sekitar lapangan berubah menjadi sedikit canggung bagi mahasiswa lain, namun tidak bagi Raka Bumi. Ia justru tampak tenang, seolah pertikaian barusan hanyalah selingan kecil yang tidak perlu dibesar-besarkan."Laki lo... tipikal orang yang hidupnya cuma punya satu setelan; mode perang," komentar Raka Bumi santai sambil kembali duduk di atas rumput. Ia menepuk tempat di sebelahnya, memberi isyarat agar Aruni kembali duduk. "Duduk, Run. Jangan berdiri kayak patung gitu. Nggak usah mikirin dia. Dia CEO, dia bisa pulang sendiri pakai mobilnya yang mahal itu."Aruni menarik napas panjang, merapikan sedikit cardigan-nya sebelum kembali duduk. "Dia bukan cuma CEO, Ra. Dia suami yang... entahlah. Dia berubah. Atau mungkin, dia cuma menunjukkannya sekarang.""Orang kalau lagi ambisius memang suka buta," sahut Raka Bumi. Ia mengeluarkan ponselnya, lalu menunjukkan galeri foto kepada Aruni. "Nih, lihat. Ini foto gedung tua di pinggiran kota. Gue
Read more