Pagi itu, sinar matahari masuk melalui celah gorden kamar, menyinari debu-debu yang menari di udara. Aster sudah terbangun jauh sebelum alarm Aruni berbunyi. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap punggung istrinya yang masih terlelap. Ada rasa sayang yang besar, tapi juga ada rasa sesak yang aneh. "Pagi, sayang," bisik Aruni setengah sadar, tangan kecilnya meraba mencari keberadaan Aster. Aster tersenyum tipis, mengecup pucuk rambut istrinya. "Pagi, Ni. Kamu lanjut tidur saja, aku mau ke ruang kerja sebentar." "Tumben banget bangun pagi?" "Ada conference call sama tim di luar negeri. Biasalah, beda zona waktu," jawab Aster enteng. Ia berbohong lagi. Tidak ada conference call. Yang ada hanyalah tumpukan draf kontrak distribusi yang perlu ia tinjau ulang, dan tentu saja, godaan untuk membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia masih "pemain" besar di dunianya. Aster melangkah ke ruang kerjanya, menutup pintu rapat-rapat. Ia menyalakan laptop dan langsung membuka grup pesan
اقرأ المزيد