Jantung Itha berdetak luar biasa kencang.Dia memang tahu cepat atau lambat momen seperti ini akan datang, tetapi dia sama sekali tidak menyangka semuanya akan terjadi secepat ini. Bahkan, Itha sempat menyesali pertengkarannya dengan Liana barusan, meskipun menurutnya wanita itu memang pantas mendapat balasan. Setelah dihina berkali-kali, rasanya mustahil bagi Itha untuk terus diam tanpa membela diri."Pagi ini benar-benar ramai ya di ruang makan," bisik salah satu asisten dapur, Susan, pada rekan kerja di sebelahnya."Pagi, semuanya." Alverio menyapa para wanita yang sedang bekerja di dapur."Pagi, Tuan," jawab mereka serempak."Aku ingin bicara empat mata dengan salah satu pekerja di sini," ujar Alverio pada pengawas ruang makan.Nada suaranya tenang, tetapi cukup serius. Ekspresi Alverio pun sama sekali tidak terlihat ramah. Sejak ayahnya meninggal, dia hampir tidak pernah keluar rumah. Akan tetapi, masalah kali ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.Semua wanita di dapur langsung me
Read more