"Aura, Aura!"Aku menoleh ke samping dan melihat temanku, Isya. Dia mengenakan gaun panjang berwarna biru langit, rambut pirangnya terurai, melambai padaku sambil berjalan mendekat."Aku kira kamu tidak jadi datang, Aura!" katanya sambil memelukku."Isya, kamu tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Rendi, bajingan itu, mau memperkosaku," kataku sambil menangis. Kenangan tentang pria menjijikkan itu yang menyentuhku masih terasa begitu jelas."Apa?!" balasnya terkejut.Aku menceritakan semuanya padanya. Dia langsung memelukku, menangis bersamaku."Kita bisa memperbaiki semua ini, Aura. Kamu tidak boleh kembali ke rumah itu lagi. Aku sudah tahu kamu harus gimana!""Gimana?""Aku punya surat izin perjalanan yang sudah ditandatangani orang tuaku, dan tiketnya juga sudah dibeli. Kamu tinggal naik bus menggantikanku saja.""Kamu gila?! Nanti kamu bisa ketinggalan perjalananmu!""Aku tinggal beli tiket lagi dan berangkat besok. Lagi pula, kuliah di universitas baru mulai minggu depan.""Apa k
Read more