"Maaf, Tuan. Saya nggak bermaksud buat Anda kesal pagi-pagi begini," ujar Imel meminta maaf."Nggak apa-apa, Imel." Gilang mengibaskan tangan. "Satu-satunya orang yang bisa benar-benar membuatku kesal cuma Alverio. Aku berusaha mengajarinya banyak hal tentang kehidupan, tapi dia merasa sudah tahu semuanya. Aku sudah menyerah. Biar hidup sendiri yang memberinya pelajaran saja. Tapi aku sudah memperingatkannya, hidup nggak akan mengajarinya selembut seorang ayah.""Tuan, anak muda memang begitu," ujar Imel sambil tersenyum maklum. "Kalau dinasihati, sering kali susah dengar. Memang ada masa-masanya mereka seperti itu.""Imel, aku masih percaya pada keajaiban." Gilang menghela napas. "Meskipun keajaiban itu baru datang di saat-saat terakhir, aku yakin suatu hari Alverio akan sadar dan melihat sifat asli wanita itu. Setelah itu, semoga dia menemukan istri baik yang bisa mendampinginya menjadi pria yang lebih baik dan memberinya banyak anak. Begitulah yang seharusnya."Saat itu, suara langk
Read more