Rombongan itu berangkat sebelum fajar, namun kali ini bukan dengan kuda tunggangan, melainkan sebuah kereta tertutup yang tampak sederhana dari luar, namun dijaga ketat. Dua kusir di depan. Dan bayangan-bayangan menghilang di sekitar mereka. Penjaga bayangan tetap ikut, tak terlihat, namun selalu ada. Bergerak di antara pepohonan, di atas atap kereta, di jalur yang tak terjangkau mata biasa. Di dalam kereta, suasana jauh lebih sempit dan lebih personal. Ming Zhu duduk bersandar, tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih. Ming Yue di sampingnya, sesekali memeriksa denyut nadinya tanpa diminta. Su Mu duduk santai di seberang, sementara Tuan Tianyi tampak hampir tertidur, meski entah benar atau tidak. Dan Liang Wei Duduk tepat di hadapan Ming Zhu. Tetap diam seperti biasa. Namun kali ini terlalu dekat untuk diabaikan. “Perjalanan jauh seperti ini, aku lebih suka menunggangi kuda kuda. Karena kalian ikut, kami terpaksa naik kereta,” gerutu Su Mu. “Kalau kau jatuh dari kuda, aku ti
Ler mais