“Kau harus tidur,” ucap Ming Zhu cepat. “Aku harus berjaga,” ujar Liang Wei. “Patuhlah. Demi aku,” ucap Ming Zhu. Beberapa saat kemudian, lampu ruangan di padamkan. Ruangan menjadi lebih sunyi. Liang Wei akhirnya ikut berbaring di sebelah Ming Zhu. Tetap menjaga jarak karena harus berhati-hati dengan luka Ming Zhu. Ming Zhu memiringkan tubuhnya menghadap Liang Wei. “Tuan,” ucap nya. “Hm?” “Kalau semua orang di istana ini ternyata menginginkan mu mati, apa yang akan kau lakukan?” “Maka mereka akan kecewa,” ucap Liang Wei cepat. Ming Zhu tersenyum kecil. “Itu jawaban yang sangat arogan,” ucap Ming Zhu. “Tapi itu fakta,” balas Liang Wei. “Dan kalau aku ikut menjadi target?” tanya Ming Zhu lagi. Liang Wei menoleh. Ada jeda sejenak sebelum ia berbicara. Tangannya kemudian terangkat dan mengusap lembut surai Ming Zhu. “Kalau itu terjadi, aku akan menghancurkan siapapun yang berani menyentuhmu,” ucap Liang Wei. Sementara itu, di luar Paviliun Giok. Tiga penjaga
Ler mais