“Karena lebih aman seperti itu,” jawab Ming Zhu pelan. Liang Wei menghela nafas. “Memang. Seorang wanita yang hidup sendirian tidak akan bertahan lama,” “Pertanyaan kedua. Sejak kapan kau bekerja ditempatku dengan identitas palsu?” tanya Liang Wei. “Sejak hari pertama, Tuan,” jawab Ming Zhu. “Pantas saja. Langkahmu terlalu ringan untuk seorang kasim. Cara membacamu terpelajar. Dan kau terlalu berhati-hati,” ujarnya. “Orang yang tidak punya rahasia, tidak akan seperti itu,” lanjutnya. “J-jadi, Tuan sudah tahu?” “Tidak. Aku hanya curiga. Dan siapa sangka, kecurigaanku benar,” ucap Liang Wei. “Jarang ada orang yang berani menyamar dibawah hidungku,” lanjutnya. Ia terdiam sebentar. “Terutama seseorang dengan marga Ming,” Ming Zhu terdiam. “Marga ini tidak umum di ibu kota. Terutama setelah dinasti lama runtuh,” ucap Liang Wei. Liang Wei berdiri. Ia mengambil tongkatnya dan berjalan menuju jendela. “Jadi, katakan padaku. Apa aku membeli seorang putri dari kel
Baca selengkapnya