“Kalau kau ingin dia hidup, pastikan dirimu sendiri tidak mati lebih dulu. Bau darah di bajumu sudah sangat mengganggu,” celetuk Ming Yue. Su Mu mendengus pelan dibelakang. “Akhirnya ada yang bicara masuk akal.” Namun Liang Wei tidak bergeming. Ia tetap di sana, di sisi Ming Zhu, seolah dunia di luar ruangan itu sudah tidak ada artinya lagi. “Aku sudah kembali,” bisiknya lirih, menunduk sedikit, dahinya hampir menyentuh tangan Ming Zhu. “Jadi, kau juga harus kembali,” lanjutnya. Lampu minyak berkelip pelan. Ming Yue bangkit, memberi ruang, namun tidak benar-benar pergi. Ia berdiri tak jauh, mengawasi sebagai kakak, sekaligus satu-satunya orang yang bisa menjaga garis tipis antara hidup dan mati saat ini. “Dia jatuh cinta pada adikmu,” bisik Su Mu pada Ming Yue. Ming Yue menghela napasnya pelan. “Aku sudah sadar sejak pertama kali bertemu dengannya.” Malam berganti tanpa ada yang benar-benar menyadarinya. Lampu minyak di kamar itu sudah diganti beberapa kali. Aroma her
続きを読む