"Aku akan mendukungmu, Sayang," kata Tama, mendekat. "Aku akan jadi kurirmu, marketing-mu, dan pencuci piringmu. Kita akan buktikan pada Ibu Ajeng bahwa kamu bukan beban. Kamu adalah aset terhebat keluarga ini."Malam itu, dengan hati yang masih terluka oleh kritik Ajeng, Aya mulai membuat daftar bahan, resep andalan, dan strategi pemasaran sederhana. Di tengah tangisan si kembar dan kelelahan yang mencekik, Aya menemukan kekuatan baru. Ia akan mengubah kritikan pedas Ajeng menjadi modal usahanya.Ia tahu, perjuangannya kali ini bukan hanya demi finansial, tetapi demi harga dirinya, demi martabatnya sebagai seorang ibu yang memilih mengurus anak-anaknya sendiri.***Setelah ledakan emosi dan keputusan bulat untuk memulai usaha dari rumah, Aya menyadari satu hal krusial: ia tidak memiliki modal. Uang mereka benar-benar habis, tergerus oleh kebutuhan bayi kembar, dan sisanya telah disedot oleh Ajeng. Untuk memulai bisnis kue, sekecil apa pun, ia butuh bahan baku, kemasan, dan yang
Zuletzt aktualisiert : 2026-04-16 Mehr lesen