Jam menunjukkan pukul setengah dua siang saat Lintang akhirnya berdiri dari kursinya. Meeting tetap harus berjalan, mau bagaimana pun keadaan isi kepalanya sekarang. Map putih hasil tes DNA itu akhirnya dimasukkan kembali ke dalam tas kerja hitam miliknya. Meski begitu Lintang tetap merasa seolah benda itu masih berada tepat di depan matanya. Setiap kali mengingat hasilnya, dadanya kembali terasa sesak. Angka itu jelas, 99,98% tiga anak itu anaknya dan kesadaran itu belum benar-benar selesai ia cerna sampai sekarang. Lintang akhirnya berjalan keluar ruangan menuju ruang meeting utama. Beberapa staf yang melihatnya langsung berdiri kecil menyapa. “Siang Pak.” Lintang mengangguk singkat. Langkahnya tetap tenang seperti biasa, raut wajahnya juga masih datar. Namun orang-orang yang sudah cukup lama bekerja pasti sadar atasan mereka hari ini jauh lebih diam dibanding biasanya. Karena biasanya Lintang termasuk tipe pemimpin yang cukup aktif saat meeting. Cepat memberi tanggapan, cepat m
Read more