Ruangan VVIP itu kembali sunyi setelah ucapan Lintang Aksara Narendra tadi selesai. Lampu ruangan dibuat sedikit redup agar Hazel bisa lebih nyaman beristirahat. Di luar jendela, langit malam Bandung terlihat tenang dengan cahaya lampu kota yang berpendar samar. Sedangkan di dalam ruangan, suasana hati Hazel justru terasa semakin penuh. Perempuan itu masih duduk bersandar di ranjang. Tangannya saling menggenggam di atas selimut, tatapannya turun, pikirannya terus berkelana. Dia sudah terlalu lama memendam semuanya sendiri. Menahan sakit, menahan takut, dan menahan tangis. Sampai akhirnya dia sendiri lupa bagaimana rasanya mengeluh tanpa merasa bersalah. Sedangkan Lintang duduk tidak jauh darinya. Tatapan laki-laki itu masih tertuju penuh pada Hazel. Dia sadar betapa rusaknya hidup yang sudah Hazel jalani bertahun-tahun ini. Lintang akhirnya kembali bicara pelan. “Kamu gak perlu merasa harus nahan diri terus menerus.” Hazel perlahan mengangkat wajah. Tatapan matanya mulai berkabut
Magbasa pa