Inicio / Romansa / Saat Aku Salah Membencimu / BAB 92 Rasa Ingin Tahun

Compartir

BAB 92 Rasa Ingin Tahun

Autor: Adw_Canss781
last update Fecha de publicación: 2026-07-08 23:38:56

Mobil Lintang melaju membelah jalanan Bandung yang mulai dipenuhi lampu malam. Di dalam mobil suasananya jauh dari kata tenang. Sejak tadi Liana dan Leyan Arvindra Parameswara terus ribut membahas makanan.

“Aku mau kue coklat.”

“Aku mau ayam.”

“Ini cafe bukan kandang ayam.”

“Cafe juga jual makanan.”

“Dasar rakus.”

Sedangkan Lintang kecil duduk tenang di kursi depan sambil sesekali melirik kaca jendela. Namun sesekali anak itu juga diam-diam memperhatikan Lintang yang sedang menyetir. Tata
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 110 Tidak Menyentuh

    Mendekati jam tiga sore, rumah kembali mulai ramai oleh suara tiga anak kecil yang sudah tidak sabar ingin pergi ke taman. Leyan bahkan sudah mondar-mandir dari ruang tengah ke teras sejak jam setengah tiga. “Bundaaa.. Kita berangkat sekarang aja.” “Masih jam dua lewat.” Hazel menjawab sambil merapikan kerudungnya di depan cermin kecil ruang tamu. “Kalau sekarang nanti kesiangan.” “Tapi aku udah siap.” Leyan menunjukkan dirinya sendiri dengan wajah sangat serius. Tas kecilnya bahkan sudah menggantung di pundak. Sedangkan Liana sibuk memilih jepit rambut sambil duduk selonjor di lantai. “Aku mau yang bunga.” “Yang kemarin aja bagus.” Lintang kecil menimpali datar dari sofa sambil membaca buku gambar. “Enggak.” Liana langsung menggeleng cepat. “Aku mau cantik.” Lintang kecil langsung melirik adiknya sebentar. “Memangnya sekarang jelek?” Liana langsung diam beberapa detik. Lalu malah tertawa sendiri. Sedangkan Hazel hanya memperhatikan mereka sambil tersenyum tipis. Seperti bias

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 109 Menjemput Anak

    Jam menunjukkan pukul 10.09 pagi saat suasana di depan sekolah TK mulai ramai. Pintu-pintu kelas dibuka satu persatu. Suara anak-anak langsung memenuhi halaman kecil sekolah dengan riuh yang khas. Beberapa berlari menghampiri orang tua mereka. Ada yang sibuk menunjukkan hasil gambar dan ada juga yang langsung merengek minta jajan. Sedangkan Hazel berdiri tenang di dekat pagar sekolah sambil menunggu. Hijab krem lembut membingkai wajahnya pagi itu. Masker medis masih menutupi sebagian wajahnya dengan rapi dan meski tubuhnya masih terasa lelah matanya perlahan mulai lebih hidup saat melihat anak-anak kecil keluar dari kelas satu per satu. Sampai akhirnya, Leyan muncul paling depan sambil membawa tas kecil bergambar dinosaurus. Anak itu awalnya masih sibuk bicara dengan temannya. Namun beberapa detik kemudian, matanya menangkap sosok Hazel di dekat pagar. Seketika wajahnya langsung berubah cerah total. “BUNDAAAAAA!” Suara nyaring itu langsung membuat beberapa orang tua lain ikut menol

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 108 Kembali Ke Bandung

    Subuh itu suasana rumah masih dingin dan penuh ketegangan setelah tamparan yang diterima Hazel beberapa menit lalu. Sedangkan Rehan tetap bersiap kerja seperti tidak terjadi apa-apa. Laki-laki itu akhirnya memakai seragam yang tadi salah disetrika Hazel. Karena sebenarnya seragamnya hampir sama. Hanya beda jadwal pemakaian saja. Namun seperti biasa Rehan tetap mencari alasan untuk melampiaskan emosinya. Suara lemari dibuka kasar, langkah kaki berat dan gumaman kesal yang terus terdengar sejak tadi. “Pagi-pagi udah bikin emosi aja…” Hazel diam, perempuan itu hanya berdiri di dapur kecil sambil menyiapkan kopi panas dengan wajah menunduk. Sudut bibirnya masih terasa perih, pipinya juga mulai membiru samar dan seperti biasa dirinya tetap bergerak tenang seolah semua baik-baik saja. Padahal tangannya masih sedikit gemetar. Sekitar pukul lima pagi, Rehan akhirnya bersiap pergi. Sebelum keluar rumah laki-laki itu sempat melirik Hazel yang sedang merapikan meja dapur. “Kamu kerja hari in

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 107 Mereka

    Malam itu di dua kota berbeda, dua kehidupan berjalan dengan arah yang benar-benar bertolak belakang. Di Jakarta Hazel masih duduk diam di pinggir ranjang setelah pertengkaran tadi. Lampu kamar redup, suasana rumah tetap terasa dingin. Sedangkan di Bandung Lintang baru saja tiba di apartemennya dengan kepala yang masih penuh oleh banyak hal. Tas kerja dan beberapa map langsung ia letakkan di meja ruang tamu. Jasnya dilepas pelan, lalu tubuhnya jatuh ke sofa panjang apartemen yang biasanya terasa terlalu sunyi. Namun anehnya malam ini sunyi itu terasa berbeda. Sekarang isi kepalanya tidak lagi kosong, tatapannya perlahan jatuh ke arah ponsel di meja dan tanpa sadar sudut bibirnya naik kecil saat mengingat kejadian sepanjang hari tadi. Liana yang manyun karena dirinya telat datang ke taman, Leyan yang sibuk ngomel soal iga bakar dan Lintang kecil yang diam-diam selalu memperhatikan semuanya. Sampai suara kecil mereka yang terus memanggilnya. “Ayah.” Lintang mengembuskan napas pel

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 106 Dua Dunia Berbeda

    Perjalanan pulang menuju rumah Hazel terasa jauh lebih tenang dibanding sebelumnya. Mungkin karena tiga anak kecil itu mulai lelah setelah terlalu banyak aktivitas hari ini. Di kursi belakang mobil Liana sudah setengah rebahan sambil memeluk tas kecilnya. Sedangkan Leyan masih sempat ngoceh soal kantor Lintang meski suaranya mulai melambat karena mengantuk. “Ayah…” “Hm?” “Kursi Ayah enak banget.” Lintang tertawa kecil sambil tetap fokus menyetir. “Kamu mau tukeran kerja sama Ayah?” “Mau.” “Kerjanya apa?” “Duduk.” Liana yang tadi hampir tidur langsung tertawa kecil. “Terus makan.” “Iya.” Leyan mengangguk santai tanpa malu. Sedangkan Lintang kecil duduk paling tenang seperti biasa. Anak itu memperhatikan lampu jalan dari jendela sambil sesekali melirik ke arah Lintang di depan. Tatapannya berbeda malam ini lebih dalam dan lebih banyak berpikir. Karena hari ini dirinya melihat banyak sisi baru dari Lintang. Bukan cuma “Ayah baik” yang menemani mereka bermain di tam

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 105 Kantor

    Lift terus bergerak naik menuju lantai atas gedung Narendra Group cabang Bandung. Suara mesin lift terdengar halus. Lampu angka digital terus berubah dari bawah ke atas. Sedangkan tiga anak kecil di dalam lift jelas masih belum berhenti kagum. Liana bahkan beberapa kali melihat pantulan dirinya sendiri di dinding lift mengilap sambil tertawa kecil. “Ayah…” “Hm?” “Kalau ngomong disini suaranya bagus.” Lalu anak itu sengaja mencoba lagi. “Halo…” Suaranya memantul kecil di dalam lift. Leyan langsung ikut-ikutan. “HAAAALOOOO.” “Pelan-pelan aja.” Lintang kecil langsung menegur. “Nanti dikira kita norak. "Kita emang belum pernah.” Leyan menjawab santai tanpa rasa malu sedikit pun. Lintang sampai menunduk kecil sambil menahan tawa. Sudah lama dirinya tidak pernah merasa suasana sesantai ini di gedung kantor. Biasanya lift ini hanya dipenuhi obrolan bisnis, lapora, target kerja dan suara orang-orang yang sibuk mengejar waktu. Sedangkan sekarang yang terdengar justru suara anak

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 30 Kembali Ke Jakarta

    Sepanjang perjalanan pulang dari klinik, mobil terasa jauh lebih sunyi dari sebelumnya. Hazel duduk di kursi penumpang sambil memeluk tasnya erat. Tatapannya lurus ke luar jendela, tapi pikirannya jauh di mana-mana. Ia masih tidak percaya, tiga janin, tiga detak jantung kecil yang tadi pagi ia deng

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 27 Menyampaikan Kebenaran

    Jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul dua siang saat suara pagar dibuka terdengar dari luar. Hazel yang sejak tadi hanya diam di sofa perlahan menoleh. Ia masih memakai pakaian yang sama sejak pagi, hoodie abu-abunya kini terlipat di samping, rambutnya masih dicepol asal, dan wajahnya terliha

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 22 Mata yang Memperhatikan

    Keesokan harinya, Kevin sengaja menghindari kantin fakultasnya sendiri, terlalu ramai dan terlalu berisik. Dan akhir-akhir ini, ia semakin malas mendengar obrolan teman-temannya yang entah kenapa selalu berakhir membahas Hazel, tentang tubuhnya, tentang malam itu dan tentang hal-hal yang semakin me

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 21 Di Antara Dua Pria

    Di luar café, malam mulai beranjak. Beberapa saat kemudian, mereka keluar dan menuju parkiran. Lintang menggenggam tangan Melisa sepanjang jalan menuju mobilnya. Tatapan matanya pada perempuan itu terlihat begitu lembut. “Besok aku jemput kamu ke kampus”, ucap Lintang. Senyum di wajah Melisa s

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status