LOGIN"SIALAN, JANGAN KABUR KAMU! KEJAR DIA!"Teriakan beringas itu bergema melintasi keheningan malam, disusul derap sepatu berat yang menghantam tanah basah.Naura berlari tanpa arah. Bahu kirinya berdenyut hebat, darah hangat terus merembes dari luka dan membasahi pakaian yang sudah kuyup. Setiap langkah terasa semakin berat, tetapi rasa takut dan kepedihan yang mencengkeram dadanya memaksanya untuk terus bergerak. Ranting-ranting tajam menyabet pipi dan lengannya. Air mata bercampur lumpur melumuri wajahnya yang pucat."Bubu... Bubu..." bisik Naura di antara napasnya yang tersengal.Pandangannya mulai berbayang. Pepohonan raksasa di sekelilingnya seolah berputar, sementara rasa dingin yang menusuk tulang mulai menghilang, digantikan kehampaan yang membakar rongga dadanya. Langkahnya semakin goyah hingga kakinya tersandung akar pohon yang melintang.BRUK!Naura terjerembap ke atas tanah basah. Ia mencoba merangkak, menyangga tubuh dengan tangan kanannya yang gemetaran. Namun, seluruh ten
Dada Naura serasa mau meledak. Air sungai yang pekat dan sedingin es memaksa masuk melalui mulut dan hidungnya, mencekik pasokan udara hingga tenggorokannya terasa terbakar. Di bawah permukaan air yang gelap, pandangannya mulai kabur. Namun, bayangan tubuh kecil Bubu yang terombang-ambing di atas permukaan memacu sisa kesadarannya.GASP!Kepala Naura akhirnya menyembul menembus permukaan air yang bergejolak. Ia terbatuk-batuk hebat, meraup udara sebanyak-banyaknya."BUBU!" panggil Naura, suaranya parau, nyaris tenggelam oleh gemuruh arus sungai.Beberapa meter di depannya, tangan mungil Bubu menggapai-gapai udara sebelum kembali tenggelam, terseret arus."C-Calli... Tolong Bubu..."Naura mendayung kedua tangannya mati-matian. Setiap kayuhan terasa begitu berat saat ia berusaha menembus arus sungai yang mengamuk. Ketika jarak mereka semakin dekat, Naura menjulurkan tubuhnya ke depan dan meraih sejauh yang ia bisa."Pegang tanganku, Bubu!"GREB!Jemari Naura berhasil menyambar pergelang
Naura masih memeluk anak laki-laki itu. Entah mengapa, berada di dekatnya membuat rasa takut yang sejak tadi memenuhi dadanya perlahan mereda. Ada sesuatu dalam kehadiran anak itu yang membuat Naura merasa aman, seolah-olah tubuhnya mengenali sesuatu yang tidak mampu diingat oleh pikirannya.Beberapa saat kemudian, Naura melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah anak laki-laki di hadapannya yang masih dihiasi lebam dan noda tanah. Ada kesedihan yang terasa terlalu dalam di mata kecil itu."Maafkan aku, jangan menangis lagi, ya," bujuk Naura lembut. "Aku tidak bermaksud melupakanmu. Tapi aku benar-benar bingung... Aku tidak ingat apa-apa."Wajah anak itu berubah sendu. Matanya yang tadi tampak penuh keberanian perlahan meredup, tetapi ia berusaha menyembunyikan kesedihannya dengan menggeleng kecil.“Tidak apa-apa, Calli. Yang penting sekarang Calli sudah aman,” jawabnya pelan.Naura mengernyit. Ada sesuatu dari cara anak itu mengucapkan namanya yang membuat dadanya kembali terasa aneh. I
Naura tidak bisa melihat apa pun. Ia berdiri sendirian di sebuah ruangan yang begitu pekat sampai kedua tangannya sendiri nyaris tidak terlihat. Udara di sekelilingnya terasa pengap dan berat, membuat dadanya seperti tertekan sesuatu yang tidak kasatmata. Ia mencoba menarik napas lebih dalam, tetapi udara yang masuk justru terasa semakin sedikit.“Di mana aku?” Suaranya bergetar.Naura melangkah mundur. Telapak kakinya menyentuh lantai yang dingin dan lembap. Ia menoleh ke segala arah, berusaha menemukan pintu atau celah apa pun yang bisa membawanya keluar. Namun kegelapan di sekelilingnya seperti tidak memiliki ujung. Kemudian terdengar suara tawa kecil. Naura membeku. Suara itu terdengar dari sudut ruangan.“Hahaha...”“Siapa di sana?”Tidak ada jawaban. Hanya tawa yang terdengar semakin dekat. Naura mundur lagi sampai punggungnya membentur sesuatu. Sebuah suara perempuan terdengar dari belakangnya.“Kak Naura...”Tubuhnya menegang. Ia perlahan berbalik. Sepasang mata menatapnya dar
"Jauhkan tanganmu darinya!"Leon berdiri di ambang pintu dengan napas naik turun dan wajah penuh amarah ke arah Natasha, siap menyingkirkan siapa saja yang berani menyentuh bosnya.Jantung Natasha seolah berhenti berdetak saat bunyi dentuman pintu menghantam dinding. Napasnya tertahan di tenggorokan. Sebelum jemarinya berhasil melepaskan celana Arka, sebuah cengkeraman kuat dan dingin mencengkeram pergelangan tangannya tanpa ampun."How dare you to touch him!" bentak sebuah suara berat yang sarat akan ancaman.Sentakan kasar itu membuat tubuh Natasha terlempar ke samping hingga tersungkur di atas karpet tebal kamar tersebut. Ia meringis, memegangi siku tangannya yang memerah, kemudian mendongak dengan tatapan berapi-api.Di ambang pintu yang rusak, berdiri seorang pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam rapi. Sorot matanya dingin, menusuk tajam ke arah Natasha tanpa sedikit pun rasa hormat."Apa-apaan kamu, brengsek! Berani-beraninya kamu mendobrak pintu dan mendorongku? What the
"Anda dilarang masuk. Ini perintah langsung dari Tuan Wijaya."Kata-kata pengawal di rumah sakit itu terus berputar di kepala Arka, bercampur dengan dentuman musik dari arah dance floor. Sudah dua hari sejak Naura dipindahkan ke Jakarta, dan selama itu pula Arka sama sekali tidak diizinkan melihat keadaan wanita tersebut. Keluarga Wijaya benar-benar menutup akses untuknya.Malam itu, Arka duduk di sofa kulit di lantai dua sebuah klub malam. Ia sengaja memilih tempat yang bising. Mungkin suara musik yang menghentak dapat mengalihkan rasa pusing sekaligus emosi yang memenuhi kepalanya. Kemeja biru yang dikenakannya sudah terbuka dua kancing teratas. Wajahnya tampak kusam akibat kelelahan dan frustrasi. Gelas kristal berisi alkohol berada di tangannya. Dalam sekali teguk, minuman itu tandas."Pelan-pelan, bro. Itu alkohol, bukan air putih," tegur Bagas sembari menuangkan minuman kembali ke gelas Arka. Ia sempat memperhatikan keramaian di bawah sebelum mengarahkan perhatian kepada sahabat
Naura belum menyadari bahwa poin berikutnya dalam kontrak itu akan jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan.Arka kembali membaca. "Poin ketiga. Privasi."Ia mengetuk kontrak itu dengan jarinya. "Kita tidak boleh mencampuri urusan pekerjaan masing-masing." Tatapannya tajam. "Aku tidak akan bertan
Suara tepuk tangan menggema di aula Hotel Grand Mahardika saat Arka Rajendra Mahardika berdiri di podium dengan satu tangan melingkar di pinggang Naura Callista Wijaya.Dari kejauhan, pemandangan itu tampak sempurna. Seorang pria berpengaruh yang berdiri bangga di samping wanita yang akan menjadi is
“Mari kita bicara sebentar,” bisiknya lembut.Cengkeramannya di pergelangan tangan Naura mengencang, cukup untuk mengingatkan bahwa ini bukan undangan.Ini perintah.Ia menggiring Naura menuju balkon privat di sisi aula. Begitu pintu kaca tertutup di belakang mereka, suara musik dan percakapan di da
Lampu gantung kristal di aula utama Hotel Grand Mahardika berpendar menyilaukan, memantulkan kilau kemewahan yang hampir terasa menyesakkan bagi siapa pun yang cukup peka untuk mencium bau busuk di baliknya. Udara di dalam ruangan dipenuhi aroma parfum mahal, cerutu impor, dan minuman beralkohol kel







