"Nggak ada yang dirasakan, kan?"Akhirnya Juliana lebih memilih ikut duduk di teras depan, di dekat kolam yang begitu tenang dengan pohon dan suara gemericik air. Ia tidak jadi naik ke lantai atas, duduk bersama Syifa dengan secangkir teh hangat dan cake yang dia bawa untuk Syifa sepulang praktek tadi. "Rasanya campur aduk, Ma." ucap Syifa jujur. "Seneng tapi cemas juga."Juliana meletakkan cangkirnya, ia menatap lurus ke depan. "Jangan terlalu capek dan banyak pikiran dulu, Fa. Udah dikasih tahu harus avoid apa aja, kan?"Dengan cepat Syifa mengangguk, mulutnya penuh dengan cake cokelat, membuatnya harus mengosongkan dulu mulutnya sebelum menjawab. "Udah dengan detail dirincikan sama dokter Inggit, Ma.""Yaksa juga denger?""Tentu." jawab Syifa cepat. "Baguslah, jadi mama nggak perlu cerewet nasehatin dia."Syifa terkekeh, kembali asyik dengan cake cokelat di tangan. "Berapa embrio yang ditanam, Fa?"Syifa tersentak, memilih untuk menjeda cakenya karena percakapan ini akan sanga
더 보기