"Baru pulang kamu?"Anton mengangkat wajah, Gunawan sudah berdiri dengan sorot marah dan wajah mengeras. Ia menarik napas panjang, segera jatuh bersimpuh ketika Gunawan melangkah mendekat. Tangis Anton pecah, ia menundukkan wajahnya dalam-dalam. "Masalah kamu belum selesai, Anton!" pekik Gunawan membuat suasana rumah yang sunyi seketika riuh. "Kamu malah kayak anak SMP kabur-kaburan begini?"Anton tidak menjawab, tidak berani mengangkat wajah. Ia malah merangkak mendekat, memeluk kaki Gunawan dan menangis sejadi-jadinya di sana. "Aku nggak mau anak itu, Pa!" ucap Anton sembari terisak. "Gugurkan anak itu, aku nggak mau punya anak dari dia."Gunawan menarik kerah baju Anton, memukul anak satu-satunya itu sampai jatuh tersungkur. Tangis Gunawan ikut pecah, bayangan Erni, mendiang mama Anton berkelebat dalam benaknya. Gunawan merasa gagal! Amanah yang dulu Erni titipkan padanya sebelum menghembuskan napas terakhir, gagal Gunawan wujudkan. "Itu darah daging kamu, Anton! Kamu yang bikin
Читайте больше