"Harum ish! Masa di sana-sini harum, malah di situnya enggak?! Kamu ngasal aja kalau ngomong!" balas Bianca dengan nada ketus yang dipaksakan, meski dadanya naik-turun menahan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh sarafnya akibat hembusan napas Ronald di belahan dadanya.Ronald mendongak, menatap Bianca dengan seringai nakal yang semakin menjadi. "Belum selesai aku ngomongnya, Bi. Maksudku di sini nggak harum, tapi harumm banget kayak taman bunga yang baru mekar," jawab Ronald sembari memberikan tekanan kuat pada keempukan gumpalan daging di bawah pinggul Bianca melalui lilitan handuknya.Bianca menggelinjang seketika, tubuhnya terasa tersengat listrik. "Shhhh, Ronnn... udahhh! Kalau kayak gini terus, kita malah gagal makan di luarnya. Aku nggak mau ya ujung-ujungnya cuma guling-gulingan di kasur lagi!"Ronald tertawa rendah lalu mengangguk, melepaskan cengkeramannya pada pinggul Bianca. "Iya, iya. Sana balik ke kamarmu, dandan yang cantik buat priamu ini."Begitu dilepaskan, Bianca j
Read more