Ciuman itu awalnya lembut, sebuah pelampiasan rindu yang tertahan oleh jeruji dan rantai besi. Namun, suhu di ruangan lembap itu mendadak naik. Oksigen seolah menipis saat pagutan mereka semakin dalam dan menuntut. Allard, meski tubuhnya masih lemas pasca demam, merengkuh pinggang Satta dengan posesif, seolah takut jika ia melepaskan sedetik saja, gadis itu akan menguap bersama kegelapan malam.Napas Satta memburu. Ia bisa merasakan detak jantung Allard yang berdegup kencang di balik dadanya yang bidang.“Allard … cukup,” bisik Satta di sela-sela ciuman mereka, meski tangannya justru meremat erat kain baju pria itu.Allard tidak berhenti. Ia berpindah ke ceruk leher Satta, menghirup aroma tubuh gadis itu yang menenangkan—campuran aroma gandum dan embun pagi. “Jangan pergi sekarang, Elena. Tetaplah di sini, sebentar saja.”“Aku tidak bisa, Allard. Permaisuri Viona … dia mencurigaimu. Jika dia kembali dan menemukanku—”“Persetan dengan Viona,” geram Allard rendah, suaranya parau karena
Read more