Dingin. Kehampaan di penjara bawah tanah Istana Alderaan bukan lagi sekadar suhu udara, melainkan entitas yang merayap masuk ke dalam sumsum tulang. Sudah tiga puluh hari sejak Allard dan Satta lenyap tanpa jejak—seperti debu yang ditiup badai—dan selama tiga puluh hari itu pula, Permaisuri Viona meringkuk dalam kegelapan yang ia ciptakan sendiri.Langkah kaki itu terdengar berat, bergema di lorong batu yang lembap. Permaisuri Viona mengangkat kepalanya. Gaun sutra mewahnya kini compang-camping, ternoda oleh debu serta air mata yang mengering. Ketika jeruji besi itu berderit terbuka, sosok pria dengan jubah kebesaran hitam-emas berdiri di sana.Kaisar Alderaan. Pria yang dulu ia puja, pria yang ia dapatkan dengan tumpahan darah dan air mata wanita lain."Satu bulan, Viona," suara Kaisar memecah keheningan, dingin dan tajam seperti mata pisau. "Satu bulan tanpa suara putraku, dan kau masih di sini, bernapas, sementara duniaku runtuh."Viona merangkak mendekat, jemarinya yang gemetar me
Read more