Cahaya matahari pagi menyelinap di sela-sela rimbunnya dedaunan raksasa, jatuh tepat di atas kelopak mata Allard yang terpejam. Pria itu mengerang, merasakan sensasi aneh yang menjalar di seluruh pori-porinya—rasa gatal yang hebat, seolah kulitnya sedang dikuliti dan ditenun ulang oleh tangan-tangan tak terlihat.Ia tersentak bangun, napasnya memburu. Hal pertama yang ia sadari adalah keheningan. Bukan hening hutan, melainkan hilangnya suara napas berat dan geraman rendah yang biasanya menyertai setiap embusan napasnya."Elena ..." Allard memanggil, tapi suaranya berhenti di tenggorokan. Suara itu bukan lagi geraman parau yang dalam, melainkan bariton yang jernih, dan berwibawa.Satta, yang sedang mengumpulkan ranting kering tak jauh dari sana, berbalik. Kayu-kayu di tangannya jatuh berhamburan ke tanah berdebu. Matanya membelalak, wajahnya pucat pasi seolah baru saja melihat hantu."Siapa kau?" Satta bertanya, suaranya gemetar. Ia meraih pisau kecil di pinggangnya, mwncoba untuk teta
Read more